Showing posts with label Kelas VIII. Show all posts
Showing posts with label Kelas VIII. Show all posts

Sunday, February 28, 2021

Kisi-kisi Ujian MID Semester Genap Kelas 8 TA. 2020-2021

  • Latar belakang Daulah Ayyubiyah didirikan adalah
1. Melemahnya Daulah Fathimiyah yang dipimpin Khalifah Al-Adid menghadapi pasukan salib yang ingin menguasai baitul Maqdis
2. Mengganti Madzhab Syiah yang difahami oleh Daulah Fathimiyah dengan Madzahab Sunni 
  • Daulah Ayyubiyah didirikan pada tahun 1175 M/570 H di Mesir
  • Pendiri Daulah Ayyubiyah adalah Shalahuddin Al-Ayyubi
  • Wilayah kekuasaan Daulah Ayyubiyah adalah
1. Mesir
2. Suriah
3. Sebagian wilayah Irak dan yaman
  • Khalifah Daulah Ayyubiyah secara berurutan adalah
1. Shalahuddin Al-Ayyubi
2. Al-Aziz
3. Al-Mansur
4. Al-`Adil I
5. Al-Kamil
6. Al-`Adil II
7. As-Saleh Ayyub
8. Al-Mu`azzam
9. Al-Asyraf
  • Dua prestasi utama Daulah Ayyubiyah adalah
1. Merebut Baitul Maqdis dari Tentara Salib
2. Mengalahkan Pasukan Tentara Salib
  • Peristiwa yang menandakan berakhirnya Daulah Ayyubiyah adalah setelah terbunuhnya khalifah terakhir karena adanya konflik antara Turansyah dengan pasukan Mamluk.

Sunday, February 7, 2021

DAULAH MAMLUK : Kemajuan Peradaban Islam Daulah Mamluk

  Bidang Ekonomi 

Dalam bidang ekonomi, daulah Mamluk membuka hubungan dagang dengan Perancis dan Itali melalui perluasan jalur perdagangan yang sudah dirintis oleh daulah Fatimiyyah di Mesir  sebelumnya. 

Disamping itu, hasil pertanian juga meningkat. Keberhasilan dalam bidang ekonomi ini didukung oleh pembangunan jaringan pengangkutan dan komunikasi antara kota, baik laut mahupun darat. Keteguhan angkatan laut daulah Mamluk sangat membantu pengembangan ekonominya. 

 Seni Bangunan

Daulah Mamluk juga banyak mengalami kemajuan di bidang seni bangunan. Banyak arsitek dibawa ke Mesir untuk membangunkan sekolah-sekolah dan masjid-masjid yang indah. Bangunan-bangunan lain yang didirikan pada masa ini di antaranya adalah, rumah sakit, museum, perpustakaan, villa-villa, kubah, dan menara masjid. 

 Ilmu Pengetahuan 

Di dalam ilmu pengetahuan, Mesir menjadi tempat pelarian ilmuan-ilmuan asal Baghdad dari serangan tentera Mongol. Karena itu, ilmu-ilmu banyak berkembang di Mesir, seperti ilmu sejarah, kedokteran, astronomi, matematik, dan ilmu agama. Dalam ilmu sejarah tercatat nama-nama besar, seperti Ibn Khalikan, Ibn Taghribardi, dan Ibn Khaldun. Di bidang astronomi dikenal nama Nasir Al-Din Al-tusi. Di bidang kedokteran pula, Abu Hasan `Ali Al-Nafis. Sedangkan, dalam bidang ilmu keagamaan, tersohor nama Ibn Taimiyah, Al-Sayuthi, dan Ibn Hajar Al-`Asqalani. 

 Budaya Politik dan Militer 

Daulah Mamluk membawa warna baru dalam sejarah politik Islam. Pemerintahan dinasti ini bersifat oligarki militer, kecuali dalam waktu yang singkat ketika Qallawun (1280-1290 M) menerapkan pergantian sultan secara turun temurun. Anak Qallawun berkuasa hanya empat tahun, karena kekuasaannya direbut oleh Kitbugha (1295- 1297 M). Sistem pemerintahan oligarki ini banyak mendatangkan kemajuan di Mesir. Kedudukan amir menjadi sangat penting. Para amir berkompetisi dalam prestasi, karena mereka merupakan kandidat sultan. Kemajuan-kemajuan itu dicapai dalam bebagai bidang, seperti konsolidasi pemerintahan, perekonomian, dan ilmu pengetahuan. 

Daulah Mamluk juga memilik pengaruh besar dalam  bidang militer. Para tentara yang dididik haruslah dengan tujuan untuk menjadi pasukan pendukung kebijaksanaan pemimpin. Sultan akan diangkat di antara pemimpin tentara yang terbaik, yang paling berprestasi, dan mempunyai kemampuan untuk menghimpun kekuatan. Walaupun mereka adalah pendatang di wilayah Mesir, mereka berhasil menciptakan ikatan yang kuat berdasarkan daerah asal mereka.  

Daulah Mamluk juga menghasilkan buku ilmu kemiliteran. Minat para penulis semakin terpacu dengan keinginan mereka untuk mempersembahkan sebuah karya kepada kepada para sultan yang menjadi penguasa saat itu. 

 Sistem Pemerintahan

Bentuk pemerintahan oligarki adalah suatu bentuk pemerintahan yang menerapkan kepemimpinan berdasarkan kekuatan dan pengaruh, bukan melalui garis keturunan. Sistem pemerintahan oligarki  ini merupakan kreatifitas tokoh-tokoh militer daulah Mamluk yang belum pernah berlaku sebelumnya dalam perkembangan politik di pemerintahan Islam. Jika dibandingkan dengan sistim pemerintahan yang dijalankan sebelumnya, yaitu Sistem Monarki dan Sistem Aristokrasi atau pemerintahan para bangsawan, maka sistem pemerintahan Oligarki dapat dikatakan lebih demokratis.  

Sistem Oligarki lebih mementingkan kecakapan, kecerdasan, dan keahlian dalam peperangan. Sultan yang lemah bisa saja disingkirkan atau diturunkan dari kursi jabatannya oleh seorang tentara yang lebih kuat dan memiliki pengaruh besar di tengah-tengah masyarakat. Kelebihan lain dari sistim oligarki ini adalah tidak adanya istilah senioritas yang berhak atas juniornya untuk menduduki jabatan sultan, melainkan lebih berdasarkan keahlian dan kepiawaian seorang tentara tersebut.

 Runtuhnya Daulah Mamluk

Kemajuan-kemajuan daulah Mamluk ini tercapai berkat kepribadian dan wibawa Sultan yang tinggi, menciptakan militer yang kuat dan menjaga kesetabilan negara yang aman dari gangguan. Akan tetapi, ketika faktor-faktor tersebut menghilang, daulah Mamluk sedikit demi sedikit mengalami kemunduran. 

DAULAH MAMLUK : Penguasa Terkenal Daulah Mamluk

Sultan Al-Zahir Ruknuddin Baybar Al-Bunduqdari 

Sultan Mamluk yang paling terkenal adalah Sultan Az-Zahir Ruknuddin Baybar Al-Bunduqdari (1260-1277 M). pada awalnya ia adalah seorang budak dari Turki, nama Al-Bunduqdari diperoleh dari tuan pemiliknya di Hamah sebelum dibeli oleh Sultan Al-Shalih Al-Ayyub. Baybar Al-Bunduqdari diangkat menjadi pemimpin pasukan pengawal oleh Sultan Al-Shalih Al-Ayyub, bahkan karir militernya berjalan mulus hingga ia berhasil menjabat sebagai komondo militer tertinggi di wilayah itu. 

Sultan Al-Zahir Ruknuddin Baybar Al-Bunduqdari menjadi Sultan Daulah Mamluk yang agung, penguasa dan pendiri sejati kekuasaan Daulah Mamluk. Kemenangan pertamanya ia peroleh dalam peperangan melawan tentara Mongol di medan perang Ain Jalut; tetapi puncak ketenarannya didapatkan berkat perjuangannya yang tanpa henti melawan tentara salib.

Keperwiraan Sultan Az-Zahir Ruknuddin Baybar Al-Bunduqdari  

Kapasitas Sultan Baybar Al-Bunduqdari lebih dari sekedar pemimpin militer. Ia tidak hanya berhasil mengorganisasi angkatan perangnya, membangun kembali angkatan laut, dan memperkuat benteng Suriah, tetapi ia juga menggali sejumlah kanal, memperbaiki pelabuhan, serta menghubungkan Kairo dan Damaskus dengan layanan burung Pos, yang hanya membutuhkan waktu empat hari. Terminal-terminal kuda didirikan di setiap pos pemberhentian yang siap mengangkutnya kapan pun.  

Daulah Mamluk juga memiliki pelayanan merpati Pos. Berkat mereka, Mesir memiliki daftar burung berkualitas baik untuk memenuhi pelayanan itu, yang asalnya dikembangkan pada periode Fathimiyah. Kualitas-kulitas burung itu didata dalam sebuah daftar khusus.  

Sultan Baybar Al-Bunduqdari juga membangun banyak fasilitas umum, mempercantik Masjid, menetapkan pajak untuk negara, zakat, dan sedekah. Di antara beberapa monumen arsitekturnya, seperti masjid agung di Kairo dan di Damaskus yang dibangun pada tahun 1269 M, serta sekolah yang menyandang namanya masih bertahan hingga kini.   

DAULAH MAMLUK : Kelahiran Daulah Mamluk

Daulah Mamluk berkuasa di Mesir pada tahun 1250-1517 M. Meskipun Daulah Mamluk terdiri atas berbagai ras yang berbeda-beda, mereka mampu mengapresiasi dengan baik pembangunan arsitektur dan kesenian, sehingga dalam kedua bidang itu, Mesir boleh dibandingkan dengan daulah-daulah yang lain.

Bahkan Kairo hingga saat ini masih menjadi tempat yang indah bagi dunia peradaban Islam. Daulah Mamluk berfaham Islam Sunni, serupa dengan pendahulunya Daulah Ayyubiyah. 

Pondasi kekuasaan Daulah Mamluk diletakkan oleh penguasa pertamanya Sultanah Shajar Ad-Durr, ia menerbitkan keping mata uang yang menyandang namanya dan  pernah memerintahkan agar namanya disebut-sebut dalam khutbah Jum’at.  Selama delapan puluh hari Sultanah Shajah Ad-Durr berkuasa di Mesir.

Daulah Mamluk terbagi menjadi dua; Mamluk Bahri dan Mamluk Burji :

1. Mamluk Bahri (1250-1390 M)

Penguasa Mamluk Bahri pertama adalah Sultan Izzudin Aybak yang berkuasa tahun 1250-1257 M. Awalnya ia adalah panglima utama Daulah Mamulk (Atabeg al-Askar). Mamluk Bahri pada awalnya adalah adalah pengawal-pengawal yang dibeli oleh khalifah Al-Shalih Al-Ayyub dari Daulah Ayyubiyah dan menjadi sultan di kemudian hari.  

2. Mamluk Burji (1382-1517 M)

Pendiri sekaligus sultan Mamluk Burji (bahasa Arab: burj) pertama adalah Sultan Qallawun (1279-1290 M). Mamluk Burji tidak mengenal konsep kekuasan yang diwariskan, dan tidak menerapkan kebijakan nepotisme. Tahta kekuasaan menjadi milik siapa yang mampu meraihnya.

Keseluruhan penguasa Daulah Mamluk berjumah 47 orang, 24 berasal dari Mamluk Bahri, tidak termasuk Shajar Ad-Durr, dan 23 orang dari Mamluk Burji. Rata-rata masa pemerintahan seluruh penguasa Daulah Mamluk tidak lebih dari enam tahun.   

Daulah MAMLUK : Proses Berdirinya Daulah Mamluk

Daulah Mamluk, sebagaimana ditunjukan oleh namanya, merupakan daulah para budak, yang berasal dari beragam kelompok suku non-daulah membentuk sebuah pemerintahan, menggantikan Daulah Ayyubiyah yang telah berkuasa selama 79 tahun di Mesir (1171-1250 M). Para penguasa  ini menegaskan kekuasaan mereka atas wilayah Suriah-Mesir yang dikuasai oleh tentara salib.  

Daulah Mamluk mampu bertahan dari serangan pasukan Mongol pimpinan Hulagu Khan dan Timurlenk. Seandainya mereka gagal bertahan, tentu seluruh tatanan sejarah dan kebudayaan di Asia Barat dan Mesir akan berubah drastis. Berkat kegigihan mereka, penduduk Mesir bisa tetap menyaksikan kesinambungan budaya dan institusi politik.

Thursday, August 27, 2020

Kisi-kisi Materi SKI Kelas 8 MTs MID Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2020

 1. Pada masa khalifah Marwan bin Muhammad (Marwan II) Dinasti Umayyah benar-benar mengalami masa keruntuhan 

2. Pada tahun 750 Masehi Dinasti Umayyah berakhir 

3. Abu Muslim Al-Khurasani adalah seorang tokoh masyarakat di Khurasan yang merasa dirugikan selama masa pemerintahan Dinasti Bani Umayyah dan menjadi salah seorang propagandis terkenal.

4. Abul Abas As-Saffah dilahirkan pada tahun 104 H di Hamimah

5. Nama khalifah Abbasiyah ke-7 adalah Abdullah Al-Makmun

6. Nama khalifah Abbasiyah dari Bani Saljuk adalah

1) Al Mu’tadi Biamrillah (tahun 468-487 H/1075-1094 M)

2) Al Mustadhhir Billah (tahun 487-512 H/1094-1118 M)

7. Pada tahun 918 H/1571 M Dinasti Abbasiyah berakhir 

8. Abu ja`far Al-Mansur memerintah sebagai khalifah selama 22 tahun

9. Kemuliaan kepribadian Harun Ar-Rasyid adalah 

1) Sikapnya  tegas, mampu mengendalikan diri, tidak emosional, sangat peka perasaannya dan  toleran.

2) suka humor, pemurah dan dermawan.

10. Khalifah Abdullah Al-Makmun mengirim utusan kepada Raja Roma, Leo Armenia, untuk mendapatkan karya-karya ilmiah Yunani Kuno yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Tuesday, April 7, 2020

SEJARAH PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN AL-AZHAR

Al-Azhar didirikan oleh seorang panglima Dinasti Fathimiyah, Jauhar Al-Katib Al-Siqli pada tahun 970 M, atas perintah Khalifah Al-Muiz Lidinillah, sebagai tempat ibadah (masjid),  tempat mengembangkan ajaran-ajaran Syi’ah dan lambang kepemimpinan spiritual umat Islam. Sebelumnya, masjid Al-Azhar bernama masjid Al-Qahirah atau Al-Jami’al-Qahirah, dan  sekarang dikenal dengan Al-Azhar. Pembangunan dimulai pada tanggal 4 April 970 M/24 Jumadil Ula 359 H dan selesai pada tanggal 7 Ramadhan 361 H/22 Juni 972 M, sekaligus diresmikan sebagai tempat pelaksanaan ibadah. Peresmian itu ditandai dengan pelaksanaan salat Jumat bersama.

Tidak dapat diketahui dengan jelas, perubahan nama dari masjid Al-Qahirah menjadi masjid Al-Azhar. Sebagian para ahli, misalnya Saniyah Qura’ah berpendapat bahwa penamaan tersebut berawal dari usulan Ya’kub Ibnu Killis, seorang wazir Khalifah al-Aziz Billah. Penamaan yang diusulkan  dinisbatkan dengan nama istana Khalifah al-Qhusur  Al-Zahirah, atau dikaitkan dengan nama putri Nabi Muhammad Fatimah Al-Zahra. Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa penamaan tersebut dikaitkan dengan nama sebuah planet (Venus) yang memiliki cahaya cemerlang. Selain itu, Al-Azhar dinisbahkan kepada bunga, yang kemudian menjadi simbol dari ‘kemegahan’ peradaban muslim Kairo Apapun latar belakang penamaan tersebut, yang jelas menggambarkan harapan para pendirinya agar Masjid Al-Azhar  membawa cahaya terang dan kejayaan umat Islam yang dapat menyinari dunia. Harapan itu dapat disaksikan dalam perjalanan sejarah masjid ini, fungsinya terus digandakan, tidak lagi hanya sebagai tempat ibadah dan propaganda ajaran Syi’ah, tetapi berfungsi juga sebagai Madrasah Tinggi di Kairo, Mesir.

Setelah Al-Azhar resmi menjadi masjid Negara, kegiatan ilmiah pertama kali dilakukan dengan berkumpulnya para ulama, terdiri dari para fuqaha terkenal dan pejabat pemerintahan Fathimiyah  di  Al-Azhar untuk mendengarkan ceramah umum (Studium Generalle)  dari Abu al-Hasan Nu’man Ibnu Muhammad Al-Qirawaniy  sebagai  Qadi al-Qudat (Hakim Agung)  Dinasti Fathimiyah), terjadi pada bulan Oktober 975 M/ Shafar 365 H.

ILMUWAN/ULAMA MUSLIM PADA MASA AYYUBIAH

1. As-Suhrawardi al-Maqtul 

Nama lengkapnya Abu Al-Futuh Yahya bin Habash bin Amirak Shihab al-Din as-Suhrawardi al-Kurdi, lahir pada tahun 549 H/ 1153 M di Suhraward, sebuah kampung di kawasan Jibal, Iran Barat Laut dekat Zanjan. Ia memiliki banyak gelar  diantaranya, Shaikh al-Ishraq, Master of Illuminationist, al-Hakim, ash-Shahid, the Martyr, dan al-Maqtul.

Suhrawardi melakukan banyak perjalanan untuk menuntut ilmu. Ia pergi ke Maragha, bdi kawasan Azerbaijan. Di kota ini, Suhrawardi belajar filsafat, hukum dan teologi kepada Majd Al-Din Al-Jili. Juga memperdalam filsafat kepada  Fakhr  al-Din al-Mardini. Selanjutnya ke Isfahan, Iran Tengah dan belajar logika kepada Zahir Al-Din Al-Qari. Juga mempelajari logika dari buku al-Basa’ir al-Nasiriyyah karya Umar ibn Sahlan Al-Sawi. Dari Isfahan dilanjutkan ke Anatolia Tenggara dan diterima dengan baik oleh pangeran Bani Saljuq. Setelah itu pengembaraan Suhrawardi berlanjut ke Persia, pusat lahirnya tokoh-tokoh sufi. Di sini Suhrawardi tertarik seorang sufi sekaligus filosof.

a. Ajaran Tarekat Suhrawardi

Dalam kitab Awarif al-Ma’arif  dibahas tentang latihan rohani praktis, terdiri dari:

1) Ma’rifah, yaitu mengenal Allah melalui sifat-sifat Allah, bahwa Allah saja-lah Wujud Hakiki dan Pelaku Mutlak.

2) Faqr, yaitu tidak memiliki harta; seorang penempuh jalan hakikat tidak akan sampai ke tujuan, kecuali jila sudah melewati tahap ke-zuhud-an.

3) Tawakkul, yaitu mempercayakan segala urusan kepada Pelaku Mutlak (Allah).

4) Mahabbah, artinya Cinta kepada Allah.

5) Fana’ dan Baqa’; Fana’ artinya akhir dari perjalanan menuju Allah, sementara Baqa’ artinya awal dari perjalanan dalam Allah.

b. Pemikiran Teosofis Suhrawardi

Pemikiran teosofi Suhrawardi  disebut konsep cahaya (iluminasi, ishraqiyyah) yang lahir sebagai perpaduan antara rasio dan intuisi. Istilah ishraqi sendiri sebagai simbol geografis mengandung makna timur sebagai dunia cahaya.  Proses iluminasi cahaya-cahaya  Suhrawardi dapat diilustrasikan sebagai berikut: dimulai dari Nur al-Anwar yang merupakan sumber dari segala cahaya yang ada. Ia Maha Sempurna, Mandiri, Esa, sehingga tidak ada satupun yang menyerupai-Nya. Ia adalah Allah. Nur Al-Anwar ini hanya memancarkan sebuah cahaya yang disebut  Nur Al-Aqrab. Selain Nur  Al-Aqrab tidak ada lainnya yang muncul bersamaan dengan cahaya terdekat. Dari Nur Al-Aqrab (cahaya pertama) muncul cahaya kedua, dari cahaya kedua muncul cahaya ketiga, dari cahaya ketiga timbul cahaya keempat, dari cahaya keempat timbul cahaya kelima, dari cahaya kelima timbul cahaya keenam, begitu seterusnya hingga mencapai cahaya yang jumlahnya sangat banyak.

Pada setiap tingkat penyinaran setiap cahaya menerima pancaran langsung dari Nur Al-Anwar, dan tiap-tiap cahaya dominator meneruskan cahayanya ke masing-masing cahaya yang berada di bawahnya, sehingga setiap cahaya yang berada di bawah selalu menerima pancaran dari Nur Al-Anwar secara langsung dan pancaran dari semua cahaya yang berada di atasnya sejumlah pancaran yang dimiliki oleh cahaya tersebut. Dengan demikian, semakin bertambah ke bawah tingkat suatu cahaya maka semakin banyak pula ia menerima pancaran.

Karya-karya Suhrawardi diantaranya: kitab At-Talwihat al-Lauhiyyat al-‘Arshiyyat, Al-Muqawamat, dan Hikmah al-‘Ishraq yang membahas aliran paripatetik;  Al-Lamahat, Hayakil al-Nur, dan Risalah fi al-‘Ishraq yang membahas  filsafat yang disusun secara singkat dengan bahasa yang mudah dipahami; Qissah al-Ghurbah al Gharbiyyah, Al-‘Aql al-Ahmar, dan Yauman ma’a Jama’at al-Sufiyyin’ ulasan penjelasan sufistik menggunakan lambang yang sulit dipahami dan,  Risalah al-Tair dan Risalah fi al-‘Ishq terjemahan dari filsafat klasik, dan Al-Waridat wa al-Taqdisat berisi serangkaian do’a, dan lain-lain.


2. Ibn Al-Adhim (588-660 H/ 1192- 1262 M)

Nama lengkapnya, Kamaluddin Abu al Qosim Umar bin Ahmad bin Haibatullah bin Abi Jaradah Al Aqil, berasal dari bani Jaradah yang bermigrasi dari Bashrah ke Allepo karena wabah penyakit.  Al-Adhim lahir di Allepo, ayahnya menjadi Qadhi Madzhab Hanafi di kota itu. Sejak tahun 616 H/ 1219 M,    mulai mengajar di Allepo, setelah mendalami berbagai pengetahuan di Allepo, Baitul Maqdis, Damaskus, Hijaz dan Irak.

Kemudian menjadi Qadhi di Allepo pada zaman Amir Al- Aziz dan Al-Nashir dari dinasti Ayubiyah di Allepo, dan menjadi dubes kedua penguasa ini di Baghdad dan Kairo.

Karya-karya Al-Adhim diantaranya,  Zubdah al hallab min tarikh Hallaba, Bughyah at Thalib fi Tharikh Halaba, tentang sejarah Allepo / Halaba yang disusun secara alfabetik  terdiri dari 40 juz atau 10 jilid.

Al-Adhim, melarikan diri ke Kairo hingga wafat, ketika tentara Mongol menguasai halaba/ Allepo pada tahun 658 H / 1160 M.


3. Al-Bushiri

Nama lengkapnya  Sarafuddin Abu Abdillah Muhammad bin Abdullah as Shanhaji al Bushiri,  lahir pada tahun 1212 M di Maroko. Al-Bushiri seorang sufi besar, pengikut Thariqat Syadziliyah, dan menjadi salah satu murid Sulthonul Auliya Syeikh Abul Hasan Asy-Syadzily, r.a.   Gurunya yang lain beberapa ulama tasawuf seperti Abu Hayyan, Abu Fath bin Ya’mari dan Al ‘Iz bin Jama’ah al Kanani Al Hamawi.

Sejak masa kanak-kanak, dididik olek ayahnya sendiri dalam mempelajati Al-Qur’an untuk memperdalam ilmu agama dan kesusastraan Arab.

Al-Bushiri dikenal sebagai orang yang wara’ (takut dosa). Pernah suatu ketika ia akan diangkat menjadi pegawai pemerintahan kerajaan Mesir, akan tetapi melihat perilaku pegawai kerajaan membuatnya menolak.

Al-Bushiri  lebih menonjol dalam bidang sasra dengan hasil karyanya yang terkenal yaitu Kasidah Burdah yang diciptakannya pada abad 7 Hijrah dan dibaca dalam berbagai acara. Kasidah Burdah adalah mutiara syair kecintaan kepada Rasulullah.  Puisi Pujian Al-Bushiri kepada Nabi tidak terbatas pada sifat dan kualitas pribadi Nabi, tetapi mengungkap kelebihan Nabi yang utama yaitu mukjizat Al-Quran.

Beberapa ulama sufi yang menjadi guru Al-Bushiri, diantaranya, terutama pada bidang Imam Abu Hayyan, Abul Fath bin Sayyidunnas Al-Ya’mari Al Asybali Al Misri  pengarang kitab ‘Uyunul Atsar fi Sirah Sayyidil Basyar, Al ‘Iz bin Jama’ah Al Kanani Al Hamawi salah seorang hakim di Mesir, dan masih banyak lagi kalangan ulama besar Mesir yang memberikan ilmu pengetahuannya kepada Al-Bushiri.

Al Bushiri sebenamya tak hanya, terkenal dengan karya Burdahnya saja. la juga dikenal sebagai seorang ahli fikih, ilmu kalam dan ahli  tasawuf.

4. Abdul Latief Al Baghdadi

Seorang ulama berpengaruh yang menginspirasi ulama-ulama Al-Azhar lainnya, ahli ilmu mantiq, bayan,  Hadist, fiqh, ilmu kedokteran, dan ilmu-ilmu lainya, sekaligus sebagai tokoh berpengaruh dalam pengembangan dan penyebaran madzhab Sunni di Mesir.

5. Abu Abdullah Al Quda’i

Ahli fiqih, hadis dan sejarah, beberapa karyanya adalah Asy Syihab (Bintang), Sanadus Sihah (Perawi Hadis-Hadis Sahih), Manaqib al Imam Asy Syafi’i (Budi Pekerti Imam Syafi’i), Anba’ Al Anbiya’ (Cerita Para Nabi), ‘Uyun al Ma‘arif (Mata Air Ilmu Pengetahuan), Al Mukhtar fiz Zikir al Khutat wa Al Asar (Buku Sejarah Mesir).

6. Abu Abdullah Muhammad Al-Idrisi

Seorang  ahli geografi dan juga ahli botani yang mencatat penelitiannya dalam buku Kitab Al-Jami’ li Asytat an-Nabat (Kitab kumpulan dan Tanaman).

7. Ad-Dawudi

Seorang  ahli botani,  pengarang kitab Nuzhah an-Nufus wa al- Afkar Ma’rifah wa al-Ahjar wa al-Asyjar (kitab komprehensif tentang Identifikasi Tanaman, Bebatuan, dan Pepohonan).

8. Syeikh Syams al-Din Ibn Khalikan

Seorang ahli sejarah yang mengarang kitab wafiyyat al-‘Ayan

9. Syeikh Abu al-Qosim al-Manfaluti

Seorang ahli fiqih.

10. Al Hufi, ahli bahasa,

11. Abu Abdullah Muhammad bin Barakat,

Seorang ahli Nahwu dan ahli tafsir.

AL-AZHAR PADA MASA PEMERINTAHAN DINASTI AL-AYYUBIYAH

Berakhirnya Dinasti Fatimiyyah yang bermadzhab Syi’ah dan berkuasanya Dinasti Ayyubiah yang bermadzhab Sunni, berdampak pada perkembangan sejarah al-Azhar. Sultan Shalahuddin mengeluarkan beberapa kebijaksanaan mengenai al-Azhar, diantaranya Al-Azhar tidak boleh lagi dipergunakan untuk salat Jum’at dan kegiatan madrasah.  Alasannya karena Al-Azhar pada masa Dinasti Fathimiyah menjadi pusat pengembangan ajaran-ajaran  Syi’ah. Shalahuddin  juga menunjuk seorang Qadhi, Sadruddin Abdul Malik bin Darabas menjadi Qadhi tertinggi, yang berhak mengeluarkan fatwa-fatwa hukum mazhab Syafi’i. Diantara fatwa yang dikeluarkan adalah melarang umat Islam saat itu untuk melakukan salat Jumat di masjid al-Azhar, dan hanya boleh melakukannya di masjid al-Hakim. Alasannya, masjid al-Hakim lebih luas, selain itu dalam mazhab Syafi’i tidak boleh ada dua khutbah Jumat dalam satu kota yang sama.

Masjid Al-Azhar tidak dipakai untuk shalat Jum’at dan kegiatan pendidikan selama lebih kurang seratus tahun, yaitu sejak Salahuddin berkuasa (1171-1267 M) sampai dihidupkan kembali pada zaman pemerintahan Sultan Malik al-Zahir Baybars dari Dinasti Mamluk yang berkuasa atas Mesir.

Meskipun demikian, penutupan Al-Azhar sebagai masjid dan madrasah pada masa Dinasti Ayyubiyah,tidak berarti kegiatan keagamaan dan pendidikan tidak berkembang. Shalahuddin memiliki perhatian yang besar terhadap pendidikan. Ia melakukan pembangunan madrasah-madrasah di hampir setiap wilayah kekuasaann. Begitu juga mendirikan pendidikan tinggi (kulliyat) dan universitas. Kurang lebih 25 kulliyat didirikan pada masanya. Diantara kulliyat-kulliyat yang terkenal adalah Manazilull Izza, Al-Kulliyatul ‘Adiliyyah, Al-Kulliyatul Arsufiyah, Al-Kulliyatul Fadhiliyyah, Al-Kulliyatul Azkasyiyah dan Al-Kulliyatul ‘Asuriyah. Nama-nama kulliyat tersebut umumnya dinisbahkan kepada para pendirinya, sebagai pemberi wakaf bagi murid-murid dan guru-gurunya.

Meski ada larangan untuk tidak menggunakan Al-Azhar sebagai pusat kegiatan madrasah, masjid tersebut  tidak sepenuhnya ditinggalkan oleh murid-murid dan guru-guru, karena hanya sebagian dari mereka yang meninggalkan al-Azhar.  Pada masa pemerintahan Sultan Malikul Aziz Imadudin Usman, putra Shalahudin Yusuf al-Ayyubi, tepatnya tahun 1193 M/589 H datang seorang ulama  bernama Abdul Latif al-Bagdadi dan mengajar di Al-Azhar selama Sultan al-Malikul Aziz berkuasa.  Materi yang diajarkan al-Baghdadi dimeliputi mantiq dan bayan.

Kedatangan al- Baghdadi menambah semangat beberapa ulama yang masih menetap di al-Azhar, di antara mereka adalah Ibn al-Farid, ahli sufi terkenal, Syeikh Abu al-Qosim al-Manfaluti, Syeikh Jama al-Din al- Asyuyuti, Syeikh Shahabu al-Din al-Sahruri, dan Syams al-Din Ibn Khalikan, seorang ahli sejarah yang mengarang kitab wafiyyat al-‘Ayan.

Selain mengajar mantiq dan bayan, al- Baghdadi mengajar hadits dan fiqh. Materi-materi itu diajarkan kapada para muridnya di pagi hari, sementara  dari siang hingga sore hari mengajar kedokteran dan ilmu-ilmu lainnya. Ini merupakan upaya al- Baghdadi untuk memberikan informasi, sekaligus mensosialisasikan mazhab Sunni kepada masyarakat Mesir

Selama masa pemerintahan dinasti Ayyubiyah di Mesir (1171-1250 M), perkembangan aliran atau mazhab Sunni sangat pesat, termasuk model dan sistem pendidikan yang dikembangkan  berorientasi Sunni. Maka dalam perjalanan sejarahnya, di masa Dinasti Ayyubiah,  Al-Azhar  menjadi masjid, lembaga pendidikan,  sekaligus pusat pengembangan ajaran-ajaran  Sunni.

Para penguasa dinasti Ayyubiyah, sebagai penguasa yang setia kepada pemerintahan khalifah Abbasiyah di Baghdad, maka orientasi kebijaksanaan pemerintahannya adalah sebagaimana Baghdad, bermadzhab Sunni.  Oleh karena itu, salah satu lembaga strategis yang dapat diandalkan sebagai tempat pembelajaran, penyebaran  dan pengembangan ajaran-ajaran mazhab Suni adalah Al-Azhar.

Tuesday, March 31, 2020

KEGEMILANGAN PERADABAN DINASTI ALAYYUBIYAH

A. KEMAJUAN-KEMAJUAN MASA DINASTI AYYUBIAH

1. Pendidikan

Pemerintahan dinasti Ayyubiyah terutama pada masa kekuasaan Nuruddin dan Shalahuddin telah berhasil menjadikan Damaskus sebagai kota pendidikan.  Damaskus, ibu kota Suriah, masih menyimpan bukti yang menunjukkan jejak arsitektur dan pendidikan yang dikembangkan kedua penguasa tersebut. Nuruddin tidak hanya merenovasi dinding-dinding pertahanan kota, menambahkan beberapa pintu gerbang dan menara, serta membangun gedung-gedung pemerintahan yang masih bisa digunakan hingga kini, tetapi  juga mendirikan  madrasah sebagai sekolah pertama di Damaskus yang difokuskan untuk pengembangan ilmu hadist.  Madrasah ini terus berkembang dan menyebar ke seluruh pelosok Suriah.

Madrasah yang dibangun merupakan bagian yang tak terpisahkan dari masjid atau sebagai sekolah masjid. Lembaga pendidikan ini secara formal menerima murid-murid dan mengikuti model madrasah yang dikembangkan pada masa Nizhamiyah.  Madrasah yang didirikan Nuruddin di Aleppo (Halb), Emessa, Hamah dan Ba’labak mengikuti madzhab Syafi’i.

Nuruddin juga membangun rumah sakit yang terkenal dengan memakai namanya,yaitu Rumah sakit al-Nuri. Rumah Sakit Al-Nuri ini, menjadi rumah sakit kedua di Damaskus setelah rumah sakit al-walid dan ditambah fungsinya tidak hanya sebagai tempat pengobatan, juga sebagai sekolah kedokteran.

Pada  bangunan monumen-monumen, Nuruddin menorehkan seni  menulis indah. Prasasti-prasasti  yang ditulisnya menjadi daya tarik  para ahli paleografi (ilmu tulisan kuno) Arab. Sejak saat itu diperkirakan seni kaligrafi (khat) Arab gaya Kufi  muncul dan berkembang. Kaligrafi gaya Kufi kemudian diperbaharui dan melahirkan gaya kaligrafi Naskhi.

Salah satu prasasti yang sampai saat ini masih bisa dilihat dan dibaca terdapat di menara benteng Aleppo. Disebutkan dalam catatan orang Suriah dan Hittiyah, benteng pertahanan tersebut merupakan mahakarya arsitektural Arab kuno dan terus ada berkat jasa pemeliharaan dan renovasi Nuruddin. Di samping itu,  makam Nuruddin, yang terletak di akademi Damaskus Al-Nuriyah, hingga kini masih dihormati dan diziarahi.

Pengembangan masjid sebagai lembaga pendidikan atau sekolah masjid, juga sebagai mausoleum  menunjukkan pada masa Nuruddin terbangun konsep multifungsi yang berhubungan dengan masjid di Suriah. Bahkan pada pemerintahan selanjutnya, setelah Dinasti Ayyubiah, yaitu  masa pemerintahan Mamluk, melahirkan satu tradisi baru, yaitu menguburkan para pendiri sekolah masjid di bawah kubah bangunan yang mereka dirikan.

Selanjutnya, Shalahuddin Yusuf Al-Ayyubi juga mencurahkan perhatian pada bidang pendidikan dan aristektur.  Ia memperkenalkan pendidikan Madrasah ke berbagai wilayah di bawah kekuasaannya, seperti ke Yerusalem, Mesir dan lain-lain.  Ibnu Jubayr menyebutkan ada beberapa juga madrasah di kota Iskandariah.  Di antara madrasah terkemuka dan terbesar berada di Kairo dan memakai namanya sendiri, yaitu Madrasah al-Shalahiyah. Menurut sejarah Islam, jika Nizam al-Mulk adalah orang  yang mula-mula mendirikan madrasah, yaitu Madarasah Nizhamiyah, maka setelah Madrasah Nizamiah ini, madrasah terbesar adalah yang didirikan oleh Shalahuddin al- Ayyubi.

Sekarang, madrasah-madrasah tersebut tidak bisa ditemukan lagi, namun sisa-sisa arsitekturalnya masih bisa dilihat.  Pada tahun-tahun berikutnya, gaya arsitektur ini melahirkan beberapa monument Arab yang indah di Mesir. Salah satunya yang terindah dan menjadi model terbaik adalah Madrasah Sultan Hasan di Kairo.

Di samping mendirikan sejumlah  madrasah, Shalahuddin Yusuf al-Ayyubi juga membangun dua rumah sakit di Kairo. Bangunan kedua rumah sakit itu  dirancang mengikuti model rumah sakit Nuriyah di Damaskus, yakni selain sebagai tempat pengobatan, sekaligus sebagai sekolah kedokteran. Salah seorang dokter terkenal yang juga menjadi dokter pribadi Shalahuddin adalah Ibnu Maymun, beragama Yahudi.

Pada masa Shalahuddin Al-Ayyubi,  mulai dikenal  perayaan hari lahir Nabi Muhammad SAW yang  dikenal dengan  Maulud  Nabi di Indonesia.

2. Bidang ekonomi dan perdagangan

Dalam hal perekonomian pemerintahan  Dinasti Ayyubiah bekerja sama dengan penguasa muslim di wilayah lain, membangun perdagangan dengan kota-kota di laut Tengah, lautan Hindia dan menyempurnakan sistim perpajakan. Hubungan internasional dalam perdagangan baik jalur laut maupun jalur darat semakin ramai  dan membawa pengaruh bagi negara Eropa dan negara-negara yang dikuasainya. Sejak saat itu dunia ekonomi dan perdagangan sudah menggunakan sistem kredit, bank  termasuk Letter of Credit, bahkan ketika itu sudah ada mata uang yang terbuat dari emas.

Selain itu, dimulai percetakan mata uang dirham campuran (fulus). Percetakan fulus yang merupakan mata uang dari tembaga dimulai pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Al- Kamil ibn Al Adil Al- Ayyubi, percetakan unag fulus tersebut dimaksudkan sebagai alat tukar terhadap barang-barang yang tidak signifikan denga rasio 48 fulus untuk setiap dirhamnya.

Dalam bidang industri pada masa Ayyubiah, sudah mengenal kemajuan di bidang industri dengan dibuatnya kincir oleh seorang Syiria yang lebih canggih dibanding buatan orang Barat. Juga sudah ada pabrik karpet, pabrik kain dan pabrik gelas.

3. Militer dan Sistem Pertahanan
Pada masa pemerintahan Shalahuddin, kekuatan militernya terkenal sangat tangguh. Pasukannya diperkuat oleh pasukan Barbar, Turki dan Afrika. Selain juga memiliki alat-alat perang, pasukan berkuda,  pedang dan panah dinasti ini juga memiliki burung elang sebagai kepala burung-burung dalam peperangan.  Shalahuddin juga membuat bangunan monumental  berupa tembok kota di Kairo dan Muqattam yaitu benteng Qal’al Jabal Sultan Salahuddin al-Ayubi atau lebih dikenal dengan sebutan benteng Salahuddin Al-Ayubi, yang sampai hari ini masih berdiri dengan megahnya.

Benteng ini terletak bersebelahan Bukit Muqattam dan berhampiran dengan Medan Saiyyidah Aisyah. Ide membuat benteng ini hasil pemikirannya sendiri yang direalisasikan  pada tahun 1183M.  Shalahuddin melihat bahwa Kota Kaherah begitu luas dan besar, dan membutuhkan  sistem pertahanan  benteng yang kokoh sebagaimana di Halab dan Syria.

Salahuddin  Al-Ayubi menyuruh bahan batu yang digunakan untuk membangun pondasi benteng tersebut  diambil  dari batu-batu yang terdapat di Piramid di Giza. Benteng ini dikelilingi pagar yang tinggi  dan kokoh.

Untuk memasuki benteng, terdapat beberapa pintu utama diantaranya pintu Fath, pintu Nasr, pintu Khalk dan pintu Luq. Kemudian terdapat saluan air berasal dari sungai Nil, yang pada masa itu menjadi bekal minum para tentara. Pada zaman kerajaan Usmaniyyah benteng ini mengalami perluasan. Di bahagian utara benteng  terletak Masjid Mohammad Ali Pasha yang terbuat dari marmar dan granit.

Terdapat juga di dalam kawasan benteng ini Muzium Polis, Qasrul Jawhara (Muzium Permata) yang menyimpan perhiasan raja-raja Mesir. Terdapat juga Mathaf al-Fan al-Islami (Muzium Kesenian Islam) yang terletak di bab (pintu) Khalk yang menyimpan  ribuan barang yang melambangkan kesenian Islam semenjak zaman Nabi Muhammad  SAW, termasuk  diantaranya surat Rasulullah SAW  untuk penguasa Mesir saat itu bernama Maqauqis, agar beriman kepada Allah SWT.

Sunday, December 9, 2018

Soal Harian Semester Genap Kelas VIII

UJI KOMPETENSI I

I. Pilihlah satu jawaban yang paling tepat dan benar !
1. Nama  ayah Shalahuddin Al Ayyubi adalah…
A. Nuruddin Zanki              C. Imaduddin Zanki 
B. Nazmuddin Al-Ayyubi    D.  Syahwar

2. Bani Ayyubiyah berasal dari keturunan suku….
A. Ayyub     B. Asmat          C. Kurdi          D.Baduwi

3. Pendiri Dinasti Ayyubiah adalah….
A. Shalahuddin Al-Ayyubi      C. Imaduddin  Zanki
B. Nuruddin Zanki  D. Al-Malik

4. Pada saat menjadi perdana menteri  Shalahuddin Al-Ayyubi bergelar….
A. Al Malik Al Ghoni      C. Al Malik Al Qowiy
B. Al Malik An Nasir      D. Al Malik Asy Suja'

5. Pada saat Shalahuddin Al Ayyubi diangkat sebagai perdana menteri berusia....
A. 28 tahun      B. 32 tahun     C. 36  tahun    D. 38  tahun

6. Jabatan yang diberikan oleh khalifah Al Adid kepada Shalahuddin Al Ayyubi adalah…
A. pertimbangan agung        C.  Pembantu  Wazir 
B. intelegen  D. Perdana Menteri

7. Terpilihnya Shalahuddin Al Ayyubi menjadi penguasa setelah wafatnya ....
A. Al Malik      B. Al Adid      C. Al Makmun    D. Al Aziz

8. Yang bukan termasuk penguasa Al-Ayyubiyah yang terkenal adalah ....
A. Shalahuddin Al-Ayyubi    C. Al-Adid I 
B. Al-Kamil    D Al-Aziz

9. Shalahuddin Al-Ayyubi wafat pada tahun 1193 M di kota….
A. Damaskus   B. Paletina    C. Baghdad    D. Hejaz

10. Nama benteng pertahanan yang didirikan oleh Shalahuddin Al-Ayyubi adalah….
A. Acre      B. Qal’atul Jabal   
B. Hittin D. Kuttab

II. Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan jelas !
1. Bandingkan perkembangan kebudayaan/peradaban masa Abbasiyah dengan perkembangan kebudayaan/peradaban Ayyubiah!
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
2. Berikan interpretasimu tentang keperwiraan Shalahuddin Al-Ayyubi.
……………………………………………………………………………
3. Apa saja pelajaran yang dapat kita peroleh dari kepahlawanan Shalahuddin Ak-Ayyubi?
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
4. Apa bukti sifat toleran Shalahuddin Al-Ayyubi yang bisa dikembangkan pada masyarakat majemuk seperti Indonesia?
……………………………………………………………………………
5. Apa keteladanan sikap Shalahuddin yang bisa dilakukan sekarang ini?
……………………………………………………………………………..

UJI KOMPETENSI II

Berilah tanda (x) pada jawaban yang benar di bawah ini!
1. Ibukota Suriah adalah….
A. Damaskus B.  Mesir    C. Palestina D. Aleppo

2. Dahulu, lembaga pendidikan  tinggi disebut….
A. Halaqah    B.  hanqa        C. Zawiyah D. madrasah

3. Masjid Al-Azhar didirikan oleh dinasti….
A. Al-Ayyubi yah   B. Fathimiyah     C. Abbasiyah D.  Umayyah

4. Rumah sakit kedua yang didirikan di Damaskus adalah….
A. Rumah  sakit al-Walid        B. Rumah sakit al-Nuri  
B. Rumah sakit al-Halb          D. Rumah sakit Bagdad

5. Nama lain dari kota Aleppo adalah….
A. Halb B.  Suriah    C. Palestina D. Mesir

6. Paleografi artinya….
A. Ilmu tulisan kuno C. Khat
B. tulisan bagus  D. tulisan Arab kuno

7. Berikut ini adalah jenis tulisan indah (kaligrafi), kecuali….
A, Naskhi         B. Kufi          C. Tsuluts D.  Hiroglif

8. Universitas Al-Azhar terletak di Negara….
A. Arab Saudi B.  Mesir  C. Suriah D.  Palestina

9. Ulma besar yang menjadi pengajar Al-Azhar pada masa Dinasti Ayyubiah
A. Ibnu Maymun  B. Al-Suyuti   C. Al-Baghdadi        D. As-Syamsuddin

10. Nama dokter pribadi Shalahuddin Al-Ayyubi  yang beragama Yahudi adalah….
A. Abdul Latif C. Jauhar al-Saqili
B. Ibnu Maymun  D. Abul Qasim
II. Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan jelas !
1. Bandingkan perkembangan ilmuwan dan ulama masa Abbasiyah dengan perkembangan ilmuwan dan ulama masa Dinasti Ayyubiah!
…………………………………………………………………………………..
2. Simpulkan peranan ilmuwan dan ulama  Dinasti Ayyubiah dalam membawa kejayaan  Dinasti Bani Ayyubiah!
…………………………………………………………………………………..
3. Berikan interpretasimu tentang Al-Azhar !
…………………………………………………………………………………..
4. Apa saja pelajaran yang dapat kita peroleh dari mengenal lebih dekat ilmuwan Dinasti Ayyubiah?
…………………………………………………………………………………
5. Apa bukti sejarah kemajuan pendidikan masa Dinasti Ayyubiah? 
………………………………………………………………………………….

Wednesday, October 24, 2018

Rangkuman BAB 3 PERADABAN EMAS DINASTI ABBASIYAH

Dinasti Bani Abbasiyah berkuasa lebih dari lima abad, kurang lebih 508 tahun sejak 132-656 H/750-1258 telah banyak memberikan sumbangan  besar bagi pengembangan peradaban dan kebudayaan Islam. 

Kegiatan  keilmuan  yang  kreatif, dinamis,  dan kritis serta keberadaan para ilmuwan dan ulama yang melahirkan karya-karya monumental ditambah dukungan penuh dari kebijakan-kebijakan khalifah menjadi kunci bagi keberhasilan pengembangan keilmuan sekaligus tercapainya peradaban dan kebudayaan yang gemilang.

Diantara kemajuan-kemajuan tersebut meliputi berbagai bidang, meliputi hampir seluruh aspek kehidupan  mulai dari kemajuan di bidang politik dan pemerintahan, kemajuan di bidang sosial budaya, kemajuan ekonomi dan pertanian, kemajuan pengetahun dan teknologi dan kemajuan ilmu-ilmu keagamaan.

Kemajuan-kemajuan tersebut  melahirkan berbagai bentuk-bentuk  wujud kebudayaan yang kemudian menjadi  bukti  pencapaian  kemajuan peradaban dan kebudayaan Islam. Kebesaran dan keindahan wujud  kebudayaan tersebut masih bisa dilihat dan dinikmati sepanjang sejarah bahkan sampai hari  ini.

Diantaranya  seni bangunan dan arsitektur, baik untuk bangunan  istana, masjid, maupun bangunan kota.  Istana Qashrul Dzahabi, Qashrul Khuldi, masjid agung Samara, masji Ibn Thulun dan  pembangunan kota Baghdad dan kota Samara. Keindahan kebudayaan lainnya  tercermin  pada bidang sastra, bahasa dan seni musik. Sastrawan dan budayawan terkenal Abu Nawas, Abu Athahiyah, Al Mutanabby, Abdullah bin Muqaffa dan lain-lain. Karya dan buah pikiran mereka masih dapat dibaca hingga kini, seperti  kitab Kalilah wa Dimna. Sementara  dalam bidang musik yang sampai kini karyanya juga masih dipakai adalah Yunus bin Sulaiman, Khalil bin Ahmad,  Al-Farabi dan lain-lain.

Selain  bidang-bidang tersebut diatas, kemajuan dalam  bidang pengembangan pengetahuan dan keilmuan   tercermin pada pendirian  lembaga-lembaga pendidikan, perpustakaan, majlis kajian agama, dan lain-lain.

Kemajuan Bidang Pendidikan dan Perpustakaan masa Abbasiyah

.1. Pendidikan

Pada masa Abbasiyah, yang disebut lembaga pendidikan dasar (kuttab) umumnya merupakan bagian terpadu dengan masjid, bahkan memfungsikan masjid sebagai sekolah dasar. Kurang lebih 30.000 masjid yang digunakan sebagai lembaga pendidikan dasar. Selain itu, terdapat kegiatan pendidikan di rumah-rumah pendudukan dan di tempat-tempat lain, seperti maktab, zawiyah dan halaqah. Kurikulum utamanya dipusatkan pada Al-Quran sebagai bacaan utama para siswa, selain belajar membaca dan menulis. Anak-anak perempuan mendapat kesempatan yang sama dengan anak laki-laki untuk mempelajari ajaran-ajaran agama pada tingkatan yang lebih rendah sesuai dengan kemampuannya.
Untuk pendidikan lanjutan, dilakukan di Bait al-Hikmah, sebagai  lembaga pendidikan menengah pertama dalam Islam, didirikan oleh Khalifah Al-Makmun (830 M). Kurikulumnya meliputi pelajaran tafsir, Hadis, ushul fiqh, ilmu kalam, ilmu matiq dan kesusasteraan. Bait al-Hikmah, selain berfungsi sebagai pusat penerjemahan, dikenal sebagai pusat kajian akademis, dan perpustakaan umum, serta memiliki sebuah observatorium. Bahkan, pada saat itu observatorium-observatorium bermunculan sebagai pusat pembelajaran astronomi. Adapun untuk pendidikan sejenis perguruan tinggi didirikan Madarasah Nizhamiyah oleh Nizham al-Mulk (1065-1067). Madarasah ini dibangun sebagai pusat studi teologi (mdrasah), khususnya untuk mempelajari ajaran-ajaran Mazhab Syafi’i dan teologi Asy’ariyah. Alquran dan puisi-puisi Arab kuno menjadi sumber utama pengembangan dan penngkajiann ilmu-ilmu humaniora dan sastra (‘ilm al-adab), hal yang sama dilakukan oleh orang Eropa klasik beberapa abad kemudian. Sebagian sejarawan mengatakan bahwa berbagai kegiatan Madarasah Nizhamiyah ini ditiru oleh orang Eropa untuk membangun universitas-universitas Eropa yang pertama.

2. Perpustakaan


Masjid, selain sebagai pusat pendidikan, juga berfungsi sebagai tempat penyimpanan buku. Buku-buku  didapat dari hadiah-hadiah atau hasil pencarian dari berbagai sumber. Karenanya, masjid pada saaat itu memiliki khazanah buku-buku keagamaan yang sangat kaya. Salah seorang donatur buku-buku itu adalah seorang sejarawan terkenal yaitu al-Khatib al-Baghdadi (1002-1017) yang menyerahkan buku-bukunya sebgai wakaf untuk umat Islam.
Perpustakaan-perpustakaan (khizanat al-kutub) lain dibangun oleh kalangan bangsawan atau orang kaya sebagai lembaga-lembaga kajian untuk umum, menyimpan koleksi sejumlah buku logika, filsafat, astronomi dan bidang ilmu lainnya. Salah satu diantaranya yang dibangun oleh penguasa Buwaihi, Abdud Ad-Dawlah, di Syirazi, yang  semua buku-bukunya disusun di atas lemari-lemari, didaftar dalam katalog, dan diatur dengan baik oleh staf administrator yang berjaga secara bergiliran.
Selain perpustakaan, gambaran tentang kemajuan budaya baca pada masa Abbasiyah  bisa dilihat dari banyaknya toko buku. Toko-toko ini berpengaruh besar bagi pengembangan dunia  pendidikan, Al-Ya’qubi meriwayatkan bahwa pada masanya (sekitar 819 M) ibukota negara diramaikan oleh lebih dara seratus toko buku yang berderet di satu ruas jalan yang sama.
Hinga awal abad ke-3 Hijriah, bahan yang umum digunaka untuk menulis adalah kain perca dan papirus. Baru kemudian setelah, kertas Cina mulai masuk ke Irak.  industri kertas tumbuh menjamur. Industri itu pertama kali muncul di Samarkand, yang diperkenalkan oleh beberapa tawanan Cina pada 751.

Kemajuan Seni Kesusateraan dan Arsitektur masa Abbasiyah

Pada masa Bani Umayyah hanya mengenal dunia syair sebagai titik puncak ekspresi seni, dikarenakan Bani Umayyah sangat resisten terhadap pengaruh selain Arab. Berbeda dengan zaman Abbasiyah interaksi peradaban dan budaya dengan  bangsa non Arab, dimana heterogintas etnis, suku bangsa, dan bahasa yang ada dilindungi, membawa pada heterogonitas bahasa dan bentuk sastra. Heterogenitas ini membawa pada kekayaan khazanah Islam pada masa Abbasiyah. Bahasa Arab sebagai bahasa resmi negara semakin menyebar, dan mendapatkan penyeimbang dari bahasa-bahasa lainnya, seperti bahasa Persia, Turki, dan India. Kemajemukan bahasa membuka ruang bagi tumbuh suburnya karya-karya kesusastraan. 
Bermunculanlah para sastrawan yang ahli di bidang seni bahasa ini baik puisi maupun prosa. Wilayah kajian sastra tidak hanya puisi dan prosa tetapi sudah meluas dalam bidang karya tulis lainnya. Sastrawan pada masa ini dianggap sebagai gudangnya ilmu pengetahuan. 
      Masa golden age Abbasiah pada berbagai bidang membawa kemajuan pesat dalam bidang sastra. Masa Abbasiyah dapat dikatakan sebagai masa keemasan kesusastraan Muslim masa klasik.
     Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan terjadi perkembangan dunia sastra pada masa dinasti Abbasiyah, yakni 1) stabilitas politik, 2) kemajuan sektor ekonomi (kesejahteraan masyarakat), 3) Berkembangnya sistem pendidikan dan meningkatnya semangat pengembangan ilmu pengetahuan, 4) interaksi antar budaya dan peradaban yang semakin meningkat, dan 5) Popularitas para sastrawan, 6) kualitas karya sastra semakin meningkat,  dan 7) perkembangan variasi genre sastra, 8) apresiasi masyarakat dan pemerintah yang tinggi terhadap karya sastra. 


1. Genre Sastra masa Abbasiyah

a. Perkembangan Prosa

Secara garis besar sastra arab dibagi atas dua bagian yaitu prosa dan syair. Prosa terdiri atas  beberapa bagian, yaitu:
1. Kisah (Qisshah), adalah cerita tentang berbagai hal, baik yang bersifat realistis maupun fiktif, disusun menurut urutan penyajian yang logis dan menarik. Kisah meliputi Hikayat, Qissah Qasirah dan Uqushah. Kisah yang berkembang pada masa abbasiyah tidak hanya terbatas pada cerita keagamaan, tetapi sudah berkaitan dengan hal lain yang lebih luas, seperti kisah filsafat.
2. Amsal (peribahasa) dan Kata mutiara (al-hikam) adalah ungkapan singkat yang bertujuan memberikan pengarahan dan bimbingan untuk pembinaan kepribadian dan akhlak. Amsal dan kata mutiara pada masa Abbasiyah dan sesudahnya lebih menggambarkan pada hal yang berhubungan dengan filsafat, sosial, dan politik. Tokoh terkenal pada masa ini adalah Ibnu Al-Muqoffal.
3. Sejarah (tarikh),atau riwayat (sirah).  Sejarah atau riwayat mencakup sejarah beberapa negeri dan kisah perjalanan yang dilakukan para tokoh terkenal. Karya sastra yang terkenal dalam bidang ini antara lain: adalah mu’jam al Buldan (ensiklopedi kota dan negara) oleh Yaqut Al-Rumi (1179-1229). Tarikh Al-Hindi (sejarah India) oleh Al- Biruni (w.448 H/ 1048 M). Karya Ilmiah (Abhas ‘Ilmiyyah) mencakup berbagai bidang ilmu, diantaranya yang terkenal berkenaan dengan hal ini adalah kitab al Hawayan (buku tentang hewan).
Pada masa pemerintahan Dinasti Bani Abbasiyah telah terjadi perkembangan yang sangat menarik dalam bidang prosa. Banyak buku sastra novel, riwayat, kumpulan nasihat, dan uraian-uraian sastra yang dikarang atau disalin dari bahasa asing. Muncul sastrawan-sastrawan dengan berbagai karyanya:
1. Abdullah bin Muqaffa (wafat tahun 143 H) buku prosa yang dirintisnya diantaranya Kalilab wa Dimnab, terjemahan dari bahasa Sansekerta, karya seorang filosof India bernama Baidaba, yang kemudian disalinnya dalambahasa Arab.
2. Abdul Hamid Al-Katib, sebagai pelopor seni mengarang surat.
3. Al-Jabidb (wafat 255H), karyanya  memiliki nilai sastra tinggi, sehingga menjadi bahasa rujukan dan bahan bacaan bagi para sastrawan kemudian.
4. Ibnu Qutaibab (wafat 276 H). dikenal sebagai ilmuwan dan sastrawan yang sangat cerdas dan memiliki pengetahuan yang sangat luas tentang bahasa kesusastraan.
5. Ibnu Abdi Rabbib (wafat 328 H), seorang penyair yang berbakat memiliki kecendrungan ke sajak drama. Sesuatu yang sangat langka dalam tradisi sastra Arab. Karya terkenalnya adalah Al-Aqdul Farid, semacam ensiklopedia Islam yang memuat banyak Ilmu pengetahuan Islam.
6. Salah satu prosa terkenal dari masa ini ialah ‘Kisah Seribu Satu Malam’.

b. Perkembangan Puisi

Para sastrawan masa Abbasiyah membuat genre sajak/puisi mengombinasikan dengan sesuatu yang bukan berasal  dari tradisi Arab. Pada masa ini beberapa cirinya antara lain :
1. Penggunaan kata uslub dan ibarat baru
2. Pengutaran sajak lukisan yang hidup
3. Penyusupan ibarat filsafat
4. Kelahiran kritikus sastra pada zaman ini
Tokoh penyair terkenal pada masa Bani Abbasiah adalah:
1. Abu Nawas (145-198 H) nama aslinya adalah Hasan bin Hani
2. Abu’ At-babiyat (130-211 H)
3. Abu Tamam (wafat 232 H) nama aslinya  Habib bin Auwas At-Toba’i
4. Dabal Al-Kbuza’i (wafat 246 H), nama aslinya  Da’bal bin Ali Razin dari Kbuza’ab. Penyair besar yang berwatak kritis.
5. Al-Babtury (206-285 H), nama aslinya Abu Ubadab Walid Al-Babtury Al-Qubtbany.
6. Ibnu Rumy (221-283 H). nama aslinya Abu Hasan Ali bin Abbas. Penyair yang berani menciptakan tema-tema baru.
7. Al-Matanabby (303-354 H) nama aslinya  Abu Thayib Ahmad bin Husin Al-Kuft penyair istana yang haus hadiah, pemuja yang paling handal.
8. Al-Mu’arry (363-449 H) nama aslinya Abu A’la Al-Mu’arry. Penyair berbakat dan berpengetahuan luas.


c. Perkembangan Seni Musik

Seni musik berkembang pesat di era keemasan Dinasti Abbasiyah. Hal ini tidak lepas dari gencarnya penerjemahan risalah musik dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab. Selain itu, sokongan dan dukungan para penguasa terhadap musisi dan penyair membuat seni musik makin berkembang. Para khalifah dan pembesar istana Bani Abbas memiliki perhatian yang sangat besar terhadap musik.
Apalagi di awal perkembangannya, musik dipandang sebagai cabang dari matematika dan filsafat. Boleh dibilang, peradaban Islam melalui kitab yang ditulis Al-Kindi merupakan yang pertama kali memperkenalkan kata ‘musiqi’. Al-Isfahani (897 M-976 M) dalam Kitab Al-Aghani mencatat beragam pencapaian seni musik di dunia Islam.
Selain itu, pada umumnya orang Arab memiliki bakat musik, sehingga seni suara atau seni musik menjadi suatu keharusan bagi mereka sejak zaman jahiliyah. Diantara para pengarang kitab musik adalah sebagai berikut:
1. Yunus bin Sulaiman (wafat tahun 765 M), pengarang teori musik pertama dalam Islam. Karya musiknya sangat bernilai, sehingga banyak musikus Eropa yang        meniru.
2. Kbalib bin Abmad (wafat tahun 791 M). mengarang buku-buku teori musik mengenai not dan irama. Dijadikan sebagai bahan rujukan bagi sekolah-sekolah tinggi musik             di seluruh dunia.
3. Ishak bin Ibrahim Al-Mousuly (wafat tahun 850 M), telah berhasil memperbaiki musik jahiliyah dengan sistim baru. Dia mendapat gelar ‘Raja Musik’.
4. Hunain bin Isbak (wafat tahun 873 M). berhasil menerjemahkan buku-buku teori musik karangan Plato dan Aristoteles.
5. Al-Farabi selain sebagai seorang filosof, ia juga dikenal sebagai seniman dan ahli musik. Karyanya banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Eropa dan menjadi bahan rujukan bagi para seniman dan pemusik Eropa.
Masa keemasan Abbasiyah telah menyumbangkan beragam warisan penting bagi masyarakat modern. Peradaban dunia  ternyata tak hanya berutang budi karena telah menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan umat Islam di zaman kekhalifahan, tapi juga di bidang musik dan seni rupa. Pencapaian yang tinggi di bidang musik menunjukkan betapa masyarakat muslim telah mencapai peradaban yang sangat tinggi di abad pertengahan.



2. Seni Bangunan dan Arsitektur

Perkembangan arsitektur pada masa Dinasti Bani yang berkuasa lebih dri 500 tahun telah meninggalkan warisan arsitektur Islam yang mengagumkan. Pembeda arsitektur Abbasiyah dan Umayyah adalah pengaruh budaya lokal. Bangunan Umayyah bercorak Arab-Romawi, sedangkan bangunan Abbasiyah bercorak Persia dan Asia Tengah. Pada era itu, perkembangan arsitektur Islam yang begitu besar terlihat pada berikut.

a. Bangunan dan Arsitektur Masjid

Masjid merupakan bangunan tempat ibadah umat Islam yang merupakan bentuk menonjol dari Arsitektur Islam. Beberapa mesjid yang didirikan pada masa pemerintahan Bani Abbas:
1. Masjid Samarra, di Baghdad.
Masjid Agung Samarra dibangun oleh Khalifah Al-Mutawakkil pada 647 M. Bangunan masjid ini sangat unik, memiliki menara berbentuk spiral tinggi 52 meter, terbuat dari batu bata bakar.
Apabila datang waktu sholat muadzin menuju ke atas menara dengan menaiki jalan spiral. Hingga kini masjid unik ini masih berdiri dengan kokoh di Samarra dan menjadi  masjid terbesar di dunia serta salah satu kebanggaan kebudayaan Islam.  .
2. Masjid Ibn Thulun
Didirikan pada tahun 876 M oleh Ahmad bin Thulun, penguasa dinasti Thulun di Mesir. Masjid ini terletak di Sayyeda Zainab, Kairo dan merupakan masjid ketiga terbesar di Mesir sejak penaklukan Mesir oleh Islam.
Masjid ini dihiasi oleh sejumlah ornamen khas Islam, disamping menaranya yang spesifik dengan tangga yang melingkar.



2. Bangunan dan Arsitektur Kota


a. Kota Baghdad
Pada 30 Juli 762 M, Khalifah Al-Mansur menemukan sebuah lokasi di tepian Sungai Tigris yang cocok untuk menjadi ibu kota baru. Khalifah memberi nama kota tersebut Madinat al-Salaam,  berarti Kota Perdamaian, sekaligus menjadi  nama resmi yang tercetak di koin dinar dan dirham serta dalam penggunaan resmi. Namun penduduknya menyebut nama kota itu Baghdad, nama desa terdekat dari kota tersebut.
Empat tahun sebelum pembangunan Baghdad, tepatnya pada 758 M, Al-Mansur mengumpulkan para insinyur, seniman, dan teknokrat dari seluruh negeri untuk merancang kota perdamaian. Lebih dari 100 ribu pekerja konstruksi terlibat dalam pembangunan kota itu.
Desain kotanya berbentuk lingkaran dengan istana setinggi 39 meter dan Masjid Agung sebagai pusatnya. Ketersediaan air terjamin. Dibangun kanal pengangkut air  dari Sungai Tigris yang memenuhi kebutuhan kota.
Baghdad dikelilingi empat tembok besar. Baghdad tumbuh menjadi kota yang makmur dan sejahtera, bergelimang gading, emas, sutra, rempah-rempah, mutiara, serta permata dari Afrika, India, dan timur jauh. Lokasi Baghdad di tepian Sungai Tigris yang berhubungan dengan laut Arab menjadikan Baghdad pusat perdagangan.
Terinspirasi oleh perpustakaan Persia yang memiliki koleksi lengkap, Al-Mansur menginginkan adanya perpustakaan di kota baru itu. Buku-buku ilmu pengetahuan dari umat Hindu, bangsa Persia, dan Yunani kuno dikumpulkan, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, yang menghabiskan waktu seratus tahun.

b. Kota Samara
Kota Samara pernah menjdi Ibu kota Dinasti Abbasiyah menggantikan kota Baghdad. Pembangunan besar-besaran terjadi pada zaman Khalifah Al-Mu;tasim pada 221 H/836 M. Samarra kemudian menjadi pusat pemerintahan tujuh khalifah Abbasiyah dan kota kebanggaan dengan istana-istana indahnya. Khalifah Al-Mu’tasim mendirikan istana al-Jawsaq dan Khalifah Al-Wasiq, membangun  istana al-Haruni. Khalifah Al-Mutawakkil bahkan sempat membangun 24 istana, di antaranya adalah Balkawari, alArus, al-Mukhtar dan al-Wahid. Sementara Al-Mutamid, khalifah terakhir membangun istana al-Masyuq.
Samarra,  sekitar 124 km utara Baghdad, adalah salah satu dari empat Kota Suci Islam Irak, dan dianggap sebagai kota kuno terbesar yang diketahui di seluruh Dunia dengan reruntuhan yang megah yang memanjang sekitar 9 km dan 34 km horisontal vertikal di sepanjang timur tepi Tigris.


3. Bangunan dan Arsitektur Istana

Seni bangunan istana khalifah Abbasiyah  mempunyai ciri khas dan gaya tersendiri, dalam pintu pilar, lengkung kubah, hiasan lebih bergantung (muqarnas hat). Pemerintah dinasti Abbasiyah adalah kota Baghdad, yang dibangun Al-Mansur (136-158 H/754-775). Tempat lokasi di tepi sungai Eufrat (Furat) dan Dajlah (Tigris). Pembangunan ini diarsiteki oleh Hajjaj bin Artbab dan Amran bin Wadldlah.
Tepat di tengah Kota Baghdad didirikan istana khalifah yang bernama Al-Qasr Az-Zahabi (Istana Emas), melambangkan keagungan dan kemegahan, luasnya sekitar 160.000 Hasta persegi. Dibangun juga masjid raya bernama Masjid Jami' Al-Mansur, di depannya memiliki luas areal sekitar 40.000 hasta persegi. Tak ketinggalan dibangun perumahan penduduk, pasar, dan kantor-kantor pemerintahan.
Sekitar tahun 157 H, Al-Mansur membangun istana baru di luar kota yang diberi nama Istana abadi (Qasbrul Khuldi) khalifah Al-Mansur membagi kota Baghdad menjadi empat daerah, yang masing-masing daerah dikepalai oleh seorang Naib Amir (wakil gubernur) dan tiap-tiap daerah diberi hak mengurusi wilayah sendiri yaitu daerah otonom.

Kemajuan Ilmu-Ilmu Agama masa Abbasiyah

Ilmu agama yang dimaksud disini adalah ilmu-ilmu yang muncul ditengah-tengah suasana hidup keislaman berkaitan dengan agama dan bahasa Al-Qur’an. Ilmu agama telah berkembang sejak masa Dinasti Umayyah. Namun, pada masa Dinasti Abbasiyah mengalami perkembangan dan kemajuan yang luar biasa. Masa ini melahirkan ulama-ulama besar dan karya-karya yang agung dalam berbagai bidang ilmu agama. Diantara ilmu pengetahuan di bidang agama yang berkembang dan sangat maju adalah ilmu-ilmu sebagai berikut:

1. Ilmu Hadits

Hadist merupakan sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an. Hadis yang merupakan tradisi lisan sejak masa Rasulullah, sahabat hingga tabi’in telah mengalami banyak permasalahan. Diantaranya adalah pemisahan antara Hadist dengan qaul sahabat, klasifikasi Hadist, dan pemalsuan Hadist. Untuk mengatasi hal tersebut, para ulama melakukan penelusuran dan pengklasifikasian Hadits-hadist Rasul tersebut. Dalam sejarah perkembangan ilmu Hadist, kodifikasi dan klasifikasi terhadap Hadist sudah dimulai pada masa Dinasti Bani Umayah, di bawah kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz. Selanjutnya pada masa Dinasti Abbasiyah dilakukan kodifikasi Hadist-hadist didasarkan pada metode kritik matan dan kritik sanad. Untuk menentukan keabsahan dan keotentikan suatu Hadist para ulama meneliti dan mengkaji dengan sungguh-sungguh hadist dari segi sanad, rawi, dan matan (sifat dan bentuk hadist. Para ulama Hadist kemudian menghimpun Hadist-hadist rasul ke dalam berbagai kitab, berupa Sahih, Sunan dan Musnad.
Usaha ini diawali oleh Ishak bin Rawaih (guru Imam Bukhari), yang meminta murid-muridnya untuk menulis kitab yang menghimpun hadis-hadis shahih.  Imam Bukhari dan Muslim kemudian menulis kitab Sahih Bukhari dan Sahih Muslim. Berikutnya Abu Dawud, Tirmizi, Nasa'i dan Ibnu Majah yang menyusun kitab Sunan. Dari dua kitab Sahih dan empat Sunan, disebut dengan Kutubus-sittah (Enam Kitab Induk Hadis). Adapun kitab musnad disusun oleh Ahmad bin Hanbal, Musa Al-Abasi, Musaddad al-Basri Asad bin Musa dan Nu'aim bin Hamad al-khaza'i.
Di antara kitab-kitab Hadist yang berkembang, kutubusittah merupakan salah satu di antara kitab hadis yang paling populer dan mendapat perhatian luas dari masyarakat. Di antara ulama bahkan mengatakan tidak ada kitab yang paling sahih setelah Al-Qur’an selain kitab Shahih Al-Bukhari. Anggapan ulama bahwa kitab Shahih Imam al-Bukhari ini memiliki akurasi yang tinggi, bukan tanpa alasan. Tetapi, memang dipahami dari metode Imam al-Bukhari sendiri di dalam menyeleksi Hadist-hadist  yang dimasukan ke dalam kitab Shahih-nya. Dengan demikian pada masa kejayaan Dinasti Abbasiyah meninggalkan khazanah yang yang tak ternilai harganya yakni, para ahli Hadist yang termashur.
a)    Imam Bukhari, karyanya adalah kitab Jami’ Sahih Al-Bukhari.
b)   Imam Muslim, kitab karangannya Sahih Muslim.
c)   Ibnu Majah, karyanya Sunan Ibnu Majah.
d)   Abu Dawud, karyanya Sunan Abu Dawud.
e)    Imam Tirmizi, karyanya Sunan At-Tirmizi.
f) Imam Nasa’i, karyanya Sunan An-Nasa’i


2. Ilmu Tafsir

Pada masa Abbasiyah ilmu tafsir mengalami perkembangan yang sangat pesat dengan dilakukannya penafsiran secara sistematis, mandiri dan komprehensif, terpisah dari hadist. Pada masa ini terdapat dua cara yang ditempuh oleh para mufassir dalam melakukan penafsira ayat-ayat al-Qur’an. Pertama, metode Tafsir bil Ma’tsur,  yaitu metode penafsiran oleh sekelompok mufassir dengan cara memberi penafsiran al-Qur’an dengan hadits dan penjelasan para sahabat. Tokoh-tokohnya adalah Al-Subhi (w.127 H), Muqatil Bin Sulaiman (w.150 H), Muhammad Bin Ishaq, dan yang cukup termasyhur adalah At-Tabari. Nama lengkap Abu Ja'far Muhammad At-Tabari. At-Tabari menyusun kitab tafsir berjudul Jami' Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur'an (Himpunan Penjelasan dalam Al-Qur'an) yang corak penafsiran adalah tafsir bil ma'tsur (penafsiran dengan menyandarkan pada ayat Al-Qur'an, hadis dan ijtihad sahabat).
Kedua,  Tafsir bi Al-Ro’yi, yaitu penafsiran berdasarkan ijtihad. (akal lebih banyak dari pada Hadist). Tokohnya-tokohnya adalah Abu Bakar Al-Asham (w 240 H) dan Abu Muslim Al-Asfahani (w. 322 H). Corak penafsiran bil Ar-Ra’yi ini kemudian melahirkan kelompok-kelompok yang tidak terikat oleh Hadist maupun perkataan sahabat, dan mendapatkan perkembangan ilmu baru yang disebut Ilmu Kalam.
Menurut A. Hasymy, lahirnya ilmu kalam karena dua faktor yaitu:
1. Untuk membela Islam dengan bersenjatakan filsafat
2. Karena semua masalah termasuk masalah agama, telah berkisar dari pola rasa kepada pola akal dan ilmu.

3. Ilmu Fikih

Dalam sejarah perkembangan Ilmu fikih, pada masa Dinasti Abbasiyah mengalami perkembangan gemilang. Dipandang sebagai periode kesempurnaan, yakni periode munculnya imam-imam mujtahid besar. Pada masa ini juga disebut sebagai periode pembinaan dan pembukuan hukum Islam. Penulisan dan pembukuan hukum Islam dilakukan secara intensif, baik berupa penulisan Hadist-hadist nabi, fatwa-fatwa para sahabat dan tabi’in, tafsir Al-Qur’an, kumpulan pendapat-pendapat imam-imam fiqih, dan penyusunan ilmu ushul fiqh.
Munculah ulama yang dikenal dengan sebutan “Empat Imam Mazhab’’, yang menyusun kitab-kitab fiqih terkenal dan mengembangkan faham/mazhabnya, yaitu  Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hambal.
1. Imam Abu Hanifah, karyanya Fiqhu Akbar, Al-Alim Wal Musta’an, dan Al-Masad.
2. Imam Malik, karyanya Kitab Al-Muwatta’, dan Al-Usul As-Sagir.
3. Imam Syafi’I, karyanya Al-Umm, Al-Ar-Risalah, dan Usul Fiqih.
4. Imam Ahmad Ibnu Hambal, karyanya Al-Musnad, Jami’ As-Sagir, dan Jami’ Al-Kabir.
Fuqaha dibagi menjadi dua golongan yaitu :
1. Ahl al-hadis yaitu golongan yang menyadarkan kepada hadis dalam mengambil hukum (istinbath al-hukum)
2. Ahl-al-Ra’yi adalah golongan yang menggunakan akal di dalam mengambil hokum (istinbath al-hukm). Tokoh dalam bidang ini adalah Imam Abu Hanifah.
Diantara faktor lain yang sangat menentukan pesatnya perkembangan ilmu fiqh khususnya atau ilmu pengetahuan umumnya, pada periode ini adalah sebagai berikut:
1. Adanya perhatian pemerintah (khalifah) yang besar tehadap ilmu fiqh khususnya.
2. Adanya kebebasan berpendapat dan berkembangnya diskusi-diskusi ilmiah diantara para ulama.
3. Telah terkodifikasinya referensi-referensi utama, seperti Al-Qur’an (pada masa khalifah rasyidin), Hadist (pada masa Khalifah Umar Ibn Abdul Aziz), Tafsir dan Ilmu tafsir pada abad pertama hijriah, yang dirintis Ibnu Abbas (w.68H) dan muridnya Mujahid (w104H) dan kitab-kitab lainnya.


4. Ilmu Tasawuf

Semakin berkembangnya kecenderungan pemikiran yang bersifat filosofis menimbulkan gejolak pemikiran diantara umat Islam, sehingga banyak diantara para pemikir muslim mencoba mencari bentuk gerakan lain, diantaranya gerakan yang kemudian disebut dengan tasawuf. Ilmu tasawuf adalah ilmu syariat yang inti ajarannya menjauhkan diri dari kesenangan dunia dan mendekatkan diri kepada Allah.
Upaya menjauhkan diri dari kesenangan duniawi yang menggoda  dan hanya mendekatkan diri kepada Allah dalam tradisi tasawuf dilakukan melalui jalan atau tahapan-tahapan yang disebut maqam.
Tahapan atau maqam yang mesti dilalui oleh para sufi adalah:
1. Zuhud, adalah kehidupan yang telah terbebas dari silaunya duniawi. Tokoh yang masuk kategori ini adalah Sufyan As-Sauri (97-161 H/716-778 M), Abu Hasyim (w. 190 H)
2. Mahabbah, adalah rasa cinta yang sangat mendalam kepada Allah SWT. Tokoh terkenal adalah Rabi’ah A-Adawiyah (w. 185 H/801 M)
3. Ma’rifat, adalah pengalaman ketuhanan. Pada ucapan Zun Nun Al-Misri dan Junaid Al-Baghdadi. Zun Nun Al–Misri lahir di Akhmim pada tahun 155-245 H / 772-860 M.
4. Fana dan baqa, adalah suatu keadaan dimana seorang sufi belum dapat menyatukan dirinya dengan Tuhan sebelum menghancurkan dirinya. Tokoh pertama kali adalah Abu Yazid al-Bustami (w.874 M).
5. Ittihad dan hulul, adalah fase dimana seorang sufi telah merasakan dirinya bersatu dengan Tuhan. Tokohnya adalah Abu Yazid al-Bustami
Tokoh-tokoh sufi terkenal lainnya, yang memberikan sumbangan besar dalam karya tasawuf adalah: Al-Ghazali diantara karyanya dalam ilmu tasawuf adalah Ihya ulum al-din lmu Tasawuf, al Bashut, al Wajiz;  Al Qusyairy (wafat 465 H), karyanya: Ar Risalatul Qusyairiyah; Syahabuddin (wafat 632 H), karangannya, Awariful Ma’arif.

Sunday, October 14, 2018

Kemajuan Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi masa Abbasiyah

Kebijakan pemerintah yang mendukung aktivitas intelektual dan riset melahirkan kemajuan dalam berbagai bidang pengetahuan, sebagai berikut:

1. Filsafat
Filsafat diartikan sebagai pengetahuan dengan akal budi tentang segala yang ada, hakekat yang ada, sebab yang ada, asal yang ada,  hukum yang ada dan segala sesuatu dibahas secara mendalam dan mendasar. Pada masa Dinasti Abbasiyah Ilmu filsafat banyak diterjemahkan, tidak hanya dari kebudayaaYunani, termasuk Romawi, Persia, India, Syiria.  Proses ini biasanya disebut dengan istilah Hellenisasi. Buku-buku yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab antara lain Categories, Pyssices dan Makna Maralia karya Aristoteles, Republik, Laws, da Timaeus karya Plato, dan lain-lain. Penerjemahan yang dilakukan dengan mengadakan perubahan serta perbaikan sesuai ajaran Islam, sehingga munculah yang dinamakan  ilmu filsafat Islam. Ilmu filsafat Islam adalah pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat yang ada, sebab asal dan hukumnya atau ketentuan-ketentuannya berdasarkan Al-Qur'an dan Hadis. Munculah tokoh-tokoh terkenal dalam bidang filsafat Islam diantaranya:

a. Al-Farabi
Nama lengkapnya Muhammad bin Turkhan Abi Nasir Al-Farabi, lahir pada tahun 870 di Farab, sebuah kota di Turki Tengah (kini tidak ada lagi). Sejak kecil, rajin belajar dan memiliki otak yang cerdas. Ia belajar agama, bahasa Arab, bahasa Turki, dan bahasa Parsi. Setelah besar al-Farabi pindah ke Baghdad dan tinggal selama 20 tahun. Di Baghdad ia memperdalam filsafat, logika, matematika, etika, ilmu politik, musik, dan lain-lain. Dari Baghdad Al-Farabi pindah ke Harran (Iran) dan mempelajari filsafat Yunani kepada beberapa guru diantaranya Yuhana bin Hailan. Dari Harran kemudian pindah lagi ke Baghdad. Selama di Baghdad waktunya dihabiskan untuk mengajar dan menulis.
Hasil karyanya meliputi ilmu logika, fisika, ilmu jiwa, metafisika, kimia, ilmu politik, musik, dan lain-lain. Banyak dari karya–karyanya yang ditulis dalam bahasa Arab telah hilang. Diperkirakan hanya sekitar 30 buah yang masih ada, diantaranya: 
1. Agrad al Kitab ma Ba’da Tabi’ah  (Intisari Buku Metafisika)
2. Al–Jam’u Baina Ra’yai al–Hakimaini (Mempertemukan dua pendapat Filusuf : Plato dan Aristoteles).
3. ‘Uyun al Masa’il (Pokok–pokok persoalan)
4. Ara’u Ahl al–Madinah (Pikiran–pikiran Penduduk Kota)
5. Ihsa’ al– ‘Ulum (Statistik Ilmu)
Al-Farabi terkenal dengan filsafat kenabian dan filsafat politik kenegaraannya. Dalam hal filsafat kenabian, Al-Farabi disebut sebagai filosof pertama yang membahas soal kenabian.  Al-Farabi berkesimpulan bahwa para nabi/rasul maupun para filosof sama–sama dapat berkomunikasi dengan akal Fa’al, yakni akal ke sepuluh (malaikat). Perbedaannya, komunikasi nabi/rasul dengan akal kesepuluh terjadi melalui perantaraan imajinasi (al-mutakhayyilah) yang sangat kuat, sedangkan para filosof berkomunikasi dengan akal kesepuluh melalui akal Mustafad, yaitu akal yang mempunyai kesanggupan dalam menangkap inspirasi dari akal kesepuluh yang ada di luar diri manusia.
Filsafat politiknya yang terkenal tentang kenegaraan yang dibedakannya menjadi lima macam:
1. Negara Utama (al-madinah al-fadilah), yaitu negara yang penduduknya berada dalam kebahagiaan. Menurutnya negara terbaik adalah negara yang dipimpin oleh rasul dan kemudian oleh para filosuof;
2. Negara orang–orang bodoh (al-madinah al-jahilah), yaitu negara yang penduduknya tidak mengenal kebahagiaan;
3. Negara orang–orang fasik (al-madinah al-fasiqah), yakni negara yang penduduknya mengenal kebahagiaan, Tuhan dan akal Fa’alal-madinah al-fadilah), tetapi tingkah laku mereka sama dengan penduduk negeri yang bodoh.
4. Negara yang berubah–ubah (al-madinah a-lmutabaddilah), ialah negara yang penduduknya semula mempunyai pikiran dan pendapat seperti yang dimiliki negara utama, tetapi kemudian mengalami kerusakan;
5. Negara sesat (al-madinah ad-dallah), yaitu negara yang penduduknya mempunyai konsepsi pemikiran yang salah tentang Tuhan dan akal Fa’al, tetapi kepala negaranya beranggapan bahwa dirinya mendapat wahyu dan kemudian ia menipu orang banyak dengan ucapan dan perbuatannya.
Para ilmuan Barat memanggilnya dengan nama Alfarabius atau Avennasar dan menjulukinya sebagai pendiri filsafat Arab. Juga menyebut Al-Farabi sebagai guru kedua (The Second Master, Muallim At-Tsani), sedangkan Aristoteles sebagai Guru Pertama (The First Master, al–Mu’allim al–Awwal)). Al-Farabi bekerja di Istana Saif Ad-Daulah Al-Hamdani.
Al-Farabi  wafat di Halb (Aleppo) pada tahun 339 H / 950 M. 


b. Ibnu Rusyd

Ibnu Rusyd dikenal dengan nama Averroes. Nama lengkapnya adalah Abu Al Khalid Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Rusd, lahir di Cordova pada tahun 520 H / 1126 H, dibesarkan dalam lingkungan keluarga tedidik. Diantara karya-karyanya yang hingga kini dapat ditemukan adalah Bidayah al–Mujtahid, yang membahas tentang ilmu hukum, dan kitab al–Kulliya, yang membahas tentang ilmu kedokteran. Selain itu, ia melakukan komentar terhadap pemikiran Aristoteles, sehingga ia di dunia Barat dikenal sebagai seorang ’komentator Aristoteles’ yang termasyhur. Di dunia Timur (Islam) Ibnu Rusyd dikenal sebagai filosof yang membela pemikiran para Filosof dari kritikan Al–Ghazali. Karyanya dalam bidang ini terdapat dalam Fashl al–Maqail fi ma Baina al–Hikmah wa al–Syar’iyyah min al Ittishal.
Pikiran dan pendapat (filsafat)Ibn Rusyd berpengaruh di Eropa, yang dikenal dengan Averoisme. Dari karya-karyanya dunia Barat mendapat pencerahan, sehingga karyanya dan karya-kaya para filosof dan ilmuwan muslim lainnya diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani. Dunia Barat mencapai masa kejayaan, dikenal dengan istilah Aufklarung, Renesaince, yang melahirkan zaman industri (revolusi industri). Ibnu Rusyd meninggal pada tahun 595 H /1196 M.


c. Ibnu Bajjah


Nama lengkap Ibnu Bajjah adalah Abu Bakr Muhammad Ibnu Yahya bin As-Sa’igh At-Tujibi As-Sarakusti, tapi lebih populer dengan nama Ibnu Bajjah atau Ibnu Saligh. Di Barat, Ibnu Bajjah dikenal dengan nama Avempace, Avenpace, atau Aben Pace, lahir pada tahun 1802 di Saragosa, Spanyol, sebagai anak dari seorang pandai emas.
Selain sebagai filosof muslim Arab terbesar dari Spanyol, Ibnu Bajjah dikenal sebagai seorang astronom, musisi, dokter, fisika, psikologi, pujangga, ahli logika, matematikus, penyair dan juga juga sebagai musisi. Ia piawai bermain musik terutama gambus. Yang lebih mengesankan lagi, Ibnu Bajjah adalah ilmuwan yang hafal Al-Quran.
Selain menguasai beragam ilmu, Ibnu Bajjah dikenal sebagai politikus ulung. Kehebatannya dalam berpolitik mendapat perhatian dari Abu Bakar Ibrahim, gubernur Saragosa, dan Ia pun diangkat sebagai menteri semasa Abu Bakr Ibrahim berkuasa di Saragossa.
Pandangan filsafat Ibn Majah tentang berbagai hal sangat banyak. Diantaranya dia membahas tentang  perbuatan manusia. Menurutnya, perbuatan manusia dibagi dua, yaitu perbuatan hewani dan manusiawi. Perbuatan hewani didasarkan atas dorongan naluri untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan keiginan hawa nafsu, sedangkan perbuatan manusiawi yaitu perbuatan yang didasarkan pada rasio dan kemauan yang bersih lagi luhur.
Adapun yang berkaitan dengan filsafat politik Ibnu Bajjah, membahas tentang konsep negara. Ia membagi Negara menjadi Negara utama (al-madinat al- fadilat) atau Negara sempurna dan Negara yang tidak sempurna. Pendapat Ibnu Bajjah ini sejalan dengan Al-Farabi, perbedaannya hanya terletak pada penekanannya, Al-Farabi titik tekannya pada kepala Negara, sedangkan Ibnu Bajjah titik tekannya pada warga Negara (masyarakat).
Beberapa karya penting dalam bidang Filsafat, ialah:
a.    Kitab takbir al-mutawahhid, ini adalah kitab yang paling popular dan penting dari seluruh karya tulisnya. Kitab ini berisikan akhlak dan politik serta usaha-usaha individu menjauhkan diri dari segala macam keburukan-keburukan dalam masyarakat  negara, yang disebut sebagai insan muwahhid (manusia penyendiri)
b.   Risalat al-wada’, risalah ini membahas penggerak pertama (Tuhan), manusia, alam, dan kedokteran.
c.    Risalat al-ittishal, risalah ini menguraikan tentang hubungan manusia dengan akal fa’al.
d.    kitab al-nafs, kitab ini menjelaskan tentang jiwa.
Ibnu Bajjah meninggal dunia pada tahun 55 H/ 1138 M.

d. Ibnu Thufail

Nama lengkapnya Abu Bakar Muhammad Abd Al-Malik Ibn Muhammad Ibn
Thufail Al-Qoisyi, lahir di Cadix, provinsi Granada Spanyol pada tahun 506 H/1110 M. Ia termasuk dalam keluarga suku Arab terkemuka, Qais. Di Barat  terkenal dengan sebutan Abu Bacer. Selain terkenal sebagai filosof muslim, juga seorang dokter, ahli matematika dan kesusastraan (penyair) dari dinasti Al-Muwahhid Spanyol. Ia memulai kariernya sebagai dokter praktik di Granada.
Lewat ketenarannya sebagai dokter ia diangkat menjadi sekretaris Gubernur di Provinsi itu. Kemudian, menjadi sekretaris pribadi Gubernur Cueta(Sabtah) dan Tonjah di Magribi, dan akhirnya sebagai dokter pribadi Abu Yusuf Ya’qub Al-Manshur, Khalifah Daulat Muwahhidin (1163-1184 M), sekaligus menjadi qadhi.
Dalam bidang filsafat, Ibn Thufail dengan gigih menselaraskan sains Yunani dengan hikmah Timur, atau antara filsafat dengan agama. Wujud konkrit perpaduan ini tergambar dalam karyanya yang terkenal Hayy Ibn Yaqzhan fi asrar al-Hikmah al-Masyriqiyyah  (Hidup Anak yang sadar, rahasia-rahasia hikmah dari Timur) sebuah roman filsafat yang sarat makna dan kritis, menggambarakan orang yang mempunyai akal fikiran sebagai fitroh bagi setiap manusia akan menemukan kebenaran (Tuhan).
Buku Hayy Ibn Yaqzhan menurut beberapa ahli sebenarnya merupakan inti dari semua pemikiran Ibn Tufail. Dalam mukadimahnya Ibn Thufail menjelaskan tujuan penulisan buku itu untuk menyaksikan kebenaran (al-haqq) menurut cara yang ditempuh oleh para Ahl al-zauq dan Musyahadah yang telah mencapai tingkat kewalian.
Selain itu, ada dua buku tentang kedokteran yang ditulis oleh dua orang muridnya yang dipersembahkan kepada Ibn Thufail, yaitu karya Al-Bithruji berjudul Kitab al-Hai’ah, dan karya Ibn Rusyd berjudul fi al-Buqa’ al-Maskunah wa al-Ghair al-Maskunah.
Ibnu Thufail meninggal di kota Marraqesh, Maroko pada 581 H /1185 M.


2. Kedokteran

llmu kedokteran mendapatkan perhatian paling besar dan kedudukan terhormat. Mulai berkembang pada akhir masa Abbasiyah I, yaitu masa Khalifah Al-Watsiq, sedangkan puncaknya terjadi pada masa Abbasiyah II, III, dan IV. Buku-buku karya Ar-Razi banyak dijumpai di museum-museum Eropa dan banyak digunakan sebagai buku rujukan untuk dunia kedokteran. Semua khalifah memiliki dokter pribadi. Khalifah Al-Mansur memindahkan pusat kedokteran dari Jundisapur ke Baghdad. Pada masa khalifah Harun Ar-Rasyid, tercatat sebanyak 800 orang dokter, mencerminkan kemajuan pengetahuan dalam bidang kedokteran. Rumah sakit-rumah sakit didirikan sekaligus dijadikan sebagai pusat kegiatan praktek ilmu kedokteran, sementara teorinya diajarkan di masjid dan madrasah. Pada masa itu telah didirikan apotik yang pertama di dunia yaitu tempat menjual obat.
Beberapa ilmuwan di bidang kedokteran yang terkenal diantaranya:
1. Ali bin Rabban At-Tabbari adalah orang pertama yang mengarang buku kedokteran yiatu Firdaus al-Hikmah (850 M).
2. Ar-Razi atau Razes (809-873 M), menulis buku terkenal mengenai cacar dan campak yang diterjemahkan dalam bahasa latin.
3. Ibnu Sina, menemukan sistem peredaran darah pada manusia dan menjadi sangat termasyhur karena bukunya Qanun fi al-Thibb, diterjemahkan di Eropa pada pertengahan kedua bad 15 M dan dijadikan pegangan dalam bidang kedokteran hingga sekarang. Dia dijuluki Ibnu “Raja Obat” serta dianggap sebagai perintis tentang penyakit syaraf dan berbagai macam penyakit.
4. Hunain bin Ishaq Al Abadi (810-878 M), dokter dari ahlu Dzimmah, penganut agama Kristen dari mazhab Nastarian,  Ahli mata, Dia mengabdikan keahliannya pada masa Al-Makmun, Al-Mu’tashim, Al-Watsiq, dan Al-Mutawakil. Dia adalah satu-satunya dokter yang berhasil menyembuhkan Al-Mutawakkil setelah para dokter istana yang lain gagal mengobatinya.


3. Matematika

Terjemahan buku-buku  dari Yunani, Romawi dan India ke dalam bahasa Arab, menghasilkan berbagai karya termasuk dalam bidang matematika. Selanjutnya ilmu matematika/ilmu hisab berkembang karena kebutuhan dasar pemerintah untuk menemukan waktu yang tepat dalam setiap pembangunan. Setiap sudut harus terukur secara tepat supaya tidak terjadi kesalahan hitung dalam pembangunan gedung-gedung.
Di antara ahli matematika muslim yang terkenal adalah Al-Khawarizmi,  pengarang kitab Al-Jabar wal Muqabalah (ilmu hitung), dan penemu angka nol. Kemudian Abu Al-Wafa Muhammad bin Muhammad bin Ismail bin Al-Abbas (940-998) terkenal sebagai ahli matematika. .Tokoh-tokoh lain yang juga dikenal ahli matematika dan  memberikan sumbangan signifikan bagi pengembangan matematika  adalah:
1. Al-Biruni meliputi aritmatika teoritis dan praktis, penjumlahan seri, analisis kombinatorial, kaidah angka 3, bilangan irasional, teori perbandingan, definisi aljabar, metode pemecahan penjumlahan aljabar, geometri. teorema Archimedes, sudut segitiga.
2. Umar Khayyam (1048 – 1131 M) mengarang buku tentang aljabar, yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis oleh F. Woepeke (1857), yaitu Reatise on Algabera.

4. Astronomi

Ilmu astronomi, dalam Islam disebut ilmu falak, yaitu ilmu yang mempelajari benda-benda langit, seperti matahari, bulan bintang dan planet-planet lain. Ilmu ini ditemukan sekitar 3000 tahun SM di Babylonia. Dalam perkembangan ilmu astronomi, muncullah sistem penanggalan. Dalam dunia Islam lmu astronomi sangat penting karena sangat mendukung penentuan waktu ibadah, terutama waktu salat, penentuan arah kiblat dan penanggalan Qamariyah.  Khalifah Al-Mansur ketika menentukan letak ibukota yang ingin dibangunnya, menggunakan bantuan ilmu astronom. Beliau banyak dibantu oleh ahli astronomi dari India. 
Ilmuwan muslim mendirikan observatorium dilengkapi dengan peralatan yang maju, untuk melakukan kajian pengembangkan ilmu tersebut. Habasyi Al-Hasib Al-Marwazi melakukan observasi sejak usia 15 tahun. Ia memimpin penyusunan 3 tabel Zij Al-Makmun (Tabel Al-Makmun) pada masa pemerintahan khalifah Al-Makmun. Tabel pertama mengkritik metode Al-Khawarizmi, kedua menulis tentang Al-Ziz Al-Mumtahan, ketiga Al-Zij As-Syah.
Tokoh astronomi muslim pertama adalah Muhammad Al-Fazani, dikenal sebagai pembuat astrolob atau alat mempelajari ilmu perbintangan pertama di kalangan muslim. Tokoh-tokoh lainnya antara lai:
1. Nasiruddin Al-Thusi (pendiri Observatorium di Maragha, Asia kecil)
2. Ali bin Isa Al-Usturlabi, tokoh pertama penulis risalah astrolobe.
3. Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi tokoh ilmu falak, yang juga ahli dalam bidang matematika.
4. Al- Fargani (Al-Faragnus), menulis ringkasan ilmu astronomi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Gerard Cremona dan Johannes Hispalensis.
5. Al-Battani (Albatenius), bapak Ilmu Astronomi, menemukan bahwa garis bujur terjauh matahari mengalami peningkatan sebesar 16,47 derajat sejak perhitungan yang dilakukan oleh Ptolemy. Ini membuahkan penemuan yang penting mengenai gerak lengkung matahari. Al-Battani juga menentukan secara akurat kemiringan ekliptik, panjangnya musim, dan orbit matahari,  Iapun berhasil menemukan orbit bulan dan planet dan menetapkan teori baru untuk menentukan sebuah kondisi kemungkinan terlihatnya bulan baru. Ini terkait dengan pergantian dari satu bulan ke bulan lainnya. Hasil penelitiannya,  Kitab al-Zij diterjemahkan oleh Plato dari Tivoli ke dalam bahasa Latin pada abad ke-12 dengan judul De Scienta Stellerum De Numeris Stellerum et Motibus. Terjemahan tertua itu masih ada di Vatikan. Terjemahan bukunya keluar tahun 1116, sedangkan edisi cetaknya beredar tahun 1537 dan tahun 1645.
6. Al-Biruni menulis karya besar bidang Astronomi, Masudic Canon yang didedikasikan kepada putra Mahmud, yaitu Ma’sud. Al-Biruni juga banyak menulis buku astrologi, yaitu The Elements of Astrology. Pada tahun 1031, dia merampungkan ensiklopedia astronomi yang sangat panjang, Al-Qanun Al-Mas’udi. Al-Biruni berpendapat bahwa galaksi Bima Sakti adalah kumpulan sejumlah bintang. Dia merupakan ilmuwan yang pertama kali membedakan istilah astronomi dengan astrologi.
7. Nasiruddin At-Thusi,  1201 – 1274 M), berhasil membuat table pergerakan planet yang akurat. Kontribusi lainnya yang amat penting bagi perkembangan astronomi adalah kitab Zij-Ilkhani yang ditulis dalam bahasa Persia dan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Kitab itu disusun stelah 12 tahun memimpin observatorium Maragha. Selain itu Nasiruddin juga berhasil menulis kitab terkemuka lainnya yang berjudul At-Tadhkira fi’ilm Al-hay’a (Memoar Astronomi). Nasiruddin mampu memodifikasi model semesta apisiklus Ptolomeus  dengan prinsip-prinsip mekanika untuk menjaga keseragaman rotasi benda-benda langit. Nasiruddin meningal dunia pada tahun 672 H / 1274 M di kota Baghdad, yang pada saat itu di bawah pemrintahan Abaqa (Pengganti Hulagu).

5. Sejarah

Pada masa Dinasti Abbasiyah,  kajian sejarah masih terfokus pada tokoh atau peristiwa tertentu misalnya, sejarah hidup Nabi Muhammad SAW. Minat terhadap kajian sejarah sangat besar dan mendapat dukungan dari khalifah. Ilmuwan dalam bidang sejarah pada masa Abbasiyah diantaranya adalah Muhammad bin Ishaq bin Yasar, lebih dikenal sebagai Ibnu Ishaq, sejarawan muslim pertama, lahir pada tahun 85H / 704 M dan meninggal pada tahun 151 H / 768 M.  Dialah yang pertama kali menulis Sirah al-Nabawiyah lil Ibn Ishaq yang merupakan biografi Rasulullah pertama yang paling komprehensif. Kemudian disunting oleh muridnya  Ibn Hisyam (w.230 H/845 M) menjadi Sirah al-Nabawiyah lil Hisyam. Muhammad Ibnu Sa'ad, (w.230 H/845 M)  yang menulis karya al-Thabaqat al-Kubra (8 jilid) berkata tentang Ibnu Ishaq, "Ia merupakan yang pertama mengumpulkan sejumlah ekspedisi dari Utusan Allah (Muhammad) dan mencatatnya."
Al-Biruni  juga disebut sejarawan masa Abbasiyah, dia telah menulis buku sejarah yang berjudul Chronology.


6. Ilmu Bumi/Geografi

Dalam tradisi Islam, ilmu bumi tidak bisa dipisahkan dengan astronomi. Ahli bumi pertama dalam sejarah ilmuawan muslim adalah Hisyam Al–Kalbi (abad ke 9 M,)  dengan studinya  tentang kawasan Arab.
Berkembangnya geografi di dunia Islam dimulai ketika Khalifah Al-Makmun (813-833 M) memerintahkan ahli-ahli geografi Muslim untuk mengukur kembali jarak bumi. Sejak saat itu muncul istilah mil untuk mengukur jarak. Usaha tersebut berhasil, sehingga Al-Makmun memerintahkan para geografer Muslim untuk menciptakan peta bumi yang besar. Di bawah koordinasi Al-Khawarizmi bersama 70 geografer lainnya berhasil membuat peta globe pertama pada tahun 830 M.
Al-Khawarizmi juga berhasil menulis kitab geografi berjudul Surah Al-Ard (Morfologi Bumi) sebuah koreksi terhadap karya Ptolemeus. Yang mana kitab tersebut menjadi landasan ilmiah bagi geografi Muslim tradisional. Pada abad yang sama, Al-Kindi juga menulis sebuah buku bertajuk ‘Keterangan tentang Bumi yang Berpenghuni’. Demikian juga Al-Biruni berhasil menemukan radius bumi mencapai 6.339,6 km dimana dunia Barat belum mampu mengukur radius bumi seperti yang dilakukan Al-Biruni.
Di era kejayaan Dinasti Abbasiyah, perkembangan astronomi Islam, penerjemahan naskah-naskah kuno ke dalam bahasa Arab serta meningkatnya ekspansi perdagangan dan kewajiban menunaikan ibadah haji merndukung semakin berkembangnya geografi di dunia Islam. Semakin banyak bermnculan ahli di bidang geografi, di antaranya
1. Al-Ya’qubi (wafat 897 M), menulis buku geografi berjudul ’’Negeri-negeri’’ dengan studi topografisnya.
2. Ibn Khordadbeh (820 M - 912 M), murid Al-Kindi yang mempelajari jalan-jalan di berbagai provinsi secara cermat dan menuangkannya ke dalam buku Al-Masalik wa Al-Mamalik (Jalan dan Kerajaan).
3. Al-Dinawari (828 M-898 M)
4. Hamdani (893 M - 945 M)
5. Ali al-Masudi (896 M - 956 M), mempelajari faktor-faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi pembentukan batu-batuan di bumi.
6. .Ahmad ibn Fadlan (abad ke-10 M), menulis ensiklopedia dan kisah perjalanan ke daerah Volga dan Kaspia.
7. Ahmad ibn Rustah (abad ke-10 M), menulis ensiklopedia besar mengenai geografi.
8. Al Balkhi,  mendirikan sekolah di kota Baghdad yang secara khusus mengkaji dan membuat peta bumi.
9. Al Istakhar II dan Ibnu Hawqal (abad ke-10 M), membuat pemetaan dunia.
10. Al Baghdadi (1162 M)
11. Abdul-Leteef Mawaffaq (1162 M)
12. Abu Ubaid Al- Bakri (abad 11 M)  menulis kitab Mu’jam Al-Ista’jam (Eksiklopedi Geografi). berisi nama-nama tempat di Jazirah Arab dan Al-Masalik wa Al-Mamalik (Jalan dan Kerajaan), berisi pemetaan geografis dunia Arab zaman dahulu.
13. Al-Idrisi (1100 M), membuat peta dunia,  menulis kitab Nazhah Al- Muslak fi Ikhtira Al-Falak (Tempat Orang yang Rindu Menembus Cakrawala).. Kitab ini. diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, menjadi Geographia Nubiensis.
14. Dan lain-lain.

Kemajuan Bidang Sosial, Ekonomi dan Budaya masa Abbasiyah

1. Sistem Sosial
George Zaydan dalam bukunya Tamaddun al-Islam menggambarkan pada masa Bani Abbasiyah, masyarakat terbagi menjadi dua kelompok, yaitu kelas khusus dan kelas umum.
(a) Kelas khusus terdiri dari:
1. Khalifah
2. Keluarga Khalifah, Bani Hasyim
3. Para pejabat negara
4. Para bangsawan yang bukan Bani Hasyim, yaitu Bani Quraisy
5. Para petugas khusus seperti anggota tentara dan para pegawai istana
(b) Kelas Umum
1. Para seniman
2. Para ulama, fuqaha dan pujangga
3. Para saudagar dan pengusaha
4. Para tukang dan petani
Namun demikian, untuk menciptakan keadilan sosial kekhalifahan Dinasti Abbasiyah membuat kebijakan membentuk Badan Negara yang anggotanya terdiri dari wakil semua golongan. Tugasnya untuk melayani masyarakat dari berbagai golongan. Tidak ada perbedaan suku, kelas sosial dan agama. Di dalamnya para wakil golongan bebas berpendapat di depan khalifah.
Dalam lindungan kebijakan ini pula, masyarakat non muslim dilindungi dan diberikan hak-haknya sebagai warga negara. Mereka bebas melaksanakan berbagai aktivitas keagamaannya. Bahkan beberapa orang non muslim pernah menduduki jabatan penting di pemerintahan, seperti Gabriel bin Bakhtishu.

2. Sistem Ekonomi
Perekonomian Abbasiyah digerakkan oleh perdagangan dan pertanian. Di berbagai wilayah kekuasaan Abbasiyah terdapat  kegiatan-kegiatan industri diantaranya, Industri  kain linen di Mesir, sutra di Syiria dan irak, kertas di  Samarkand, serta berbagai produk pertanian seperti gandum dari Mesir dan Kurma dari Irak Hasil-hasil industri dan pertanian ini diperdagangkan ke berbagai wilayah kekuasaan Abbasiyah dan Negara lain. Secara bersamaan dengan kemajuan Daulah Abbasiyah, Dinasti Tang di Cina juga mengalami masa puncak kejayaan sehingga hubungan perdagangan antara keduanya menambah semaraknya kegiatan perdagangan dunia. Hubungan dagang dengan dunia luar jazirah Arab telah membuktikan bahwa masa Abbasiah hubungan diplomatik dalam bidang ekonomi perdagangan sudah dibangun sebelum orang Arab terjun ke dunia perdagangan. Selain itu, perdagangan barang tambang juga semarak. Emas yang ditambang dari Nubia dan Sudan Barat semakin melambungkan perekonomian Abbasiyah.
Untuk mendukung kegiatan perdagangan berbagai sarana pendukung didirikan seperti: membangun sumur dan tempat-tempat istirahat di jalan-jalan yang dilewati kafilah dagang, membangun armada-armada dagang, membangun armada  pertahanan laut untuk melindungi parta-partai negara dari serangan bajak laut, dan lain-lain. Usaha-usaha tersebut sangat besar pengaruhnya dalam meningkatkan perdagangan dalam dan  luar negeri, karena para kafilah-kafilah dagang  dapat  leluasa melintasi segala negeri, bahkan kapal-kapal dagang Abbasiyah dikenal mampu mengarungi tujuh lautan.
Dalam bidang pengembangan  perdagangan Khalifah membela dan menghormati kaum petani, bahkan meringankan pajak hasil bumi dan ada beberapa yang dihapuskan sama sekali. Pertanian berkembang pesat karena pemerintahannya berada pada pemerintahan yang subur di tepi sungai Sawad. Tanaman asli terdiri dari gandum, padi, kurma, wijen kapas dan rami. Sayuran segar  sepert, kacang, jeruk,terong, tebu dan anek ragam bunga.
Dinasti Abbasiyah juga sudah mengenal mata uang dinar. Khalifah Abbasiyah yang pertama menerbitkan dinar adalah Abu Al-Abbas Abdullah bin Muhammad, pada 749 M. Ia mengganti corak koin, kalimat Muhammad Rasulullah dipakai mengganti Allah Ahad, Allah Al-Samad, lam Yalid wa lam yulad, pada sisi belakang koin. Selama masa Abbasiyah dinar emas juga diterbitkan di Mesir dan Damaskus dengan menggunakan kata-kata yang sama dengan gambar dan cetakan yang ditulis dalam dinar Bani Umayyah, kecuali tanggal penerbitan. Selama masa Abu Jafar Al-Mansur, koin baru diterbitkan di Teheran dan Provinsi-provinsi lain (145 H). Pada koin-koin tersebut terlihat nama dan gelar putra Mahkota (diperintahkan oleh Al-Mahdi Muhammad bin Amir Al-Mukminin).

3. Sistem Budaya
Di masa Bani Abbassiyah terjadinya asimilasi Arab dengan non Arab dan perluasan wilayah telah melahirkan kemajemukan warga negara. Warga negara terdiri dari berbagai suku bangsa, dan agama. Apa yang terjadi dalam unsur bangsa, terjadi pula dalam unsur kebudayaan. Dalam perkembangan kebudayaan, berkembang corak kebudayaan, yang berasal dari beberapa bangsa. Ada empat unsur kebudayaan yang mempengaruhi bangunan kebudayaan pada masa Abbasiyah, yaitu:
1. Kebudayaan Persia; pengaruh kebudayaan Persia terjadi diantaranya karena 2 faktor :
a.Pembentukan lembaga wizarah
b.Pemindahan ibukota
2. Kebudayaan India; pengaruh India dalam membentuk kebudayaan Islam terjadi dengan dua cara:
a.Secara langsung, kaum muslimin berhubungan dengan orang-orang India
diantaranya  melalui perdagangan.
b.Secara tidak langsung, kebudayaan India masuk ke dalam kebudayaan Islam lewat kebudayaan Persia.
3. Kebudayaan Yunani; pusat-pusat kebudayaan Yunani setelah berada di tangan kaum muslimin dilakukan perubahan dan pengembangan diantaranya:
a. Jundaisabur, sekolah tinggi kedokteran berbahasa Yunani.
b. Harran, pusat pertemuan berbagai peradaban
c. Iskandariyyah, Ibukota Mesir waktu menjadi jajahan Yunani,
4. Kebudayaan Arab; pengaruh kebudayaan Arab masuk melalui penggunaan Bahasa Arab sebagai bahasa resmi dan bahasa agama.

Kisi-kisi Ujian MID Semester Genap Kelas 9 TA. 2020-2021

Tradisi keislaman Nusantara adalah adat kebiasaan yang diwariskan secara turun-temurun yang masih dijalankan dalam masyarakat Nusantara yang...